Apakah kesusastraan Indonesia hidup dalam suasana yang kondusif? Apa boleh buat jawabannya: ia masih nelangsa. Ia diproduksi dengan semangat gegap-gempita, tetapi tetap tak menyihir manusia-manusia di luar dunia teks untuk membaca karya-karya yang dianggap sangat elitis, tidak bertolak dari kenyataan sosial, dan kian jauh meninggalkan persoalan-persoalan sejarah bangsanya itu.
Berbagai upaya pun kemudian dilakukan. Lahirlah lembaga-lembaga yang beriktikad baik untuk mendongkrak semangat membaca agar karya sastra tidak hanya dikonsumsi para penulis sastra. Agar khalayak ramai menjadi bagian tidak terpisahkan dari pekerjaan agung yang pada masa lalu hanya dilakukan oleh para pujangga keraton itu. Gugatan-gugatan supaya teks lahir dari rahim derita dan kegembiraan bangsa juga dihujatkan, tetapi yang terjadi sastra justru kian menjauh dari denyut nadi sejarah-sejarah besar negeri yang terus-menerus bergolak menuju ruang dan waktu hidup yang lebih adil dan sejahtera ini.
Kita kemudian juga tahu beberapa institusi merespons kemampatan dengan memberikan pelbagai penghargaan. Di luar pro-kontra pemberian anugerah sastra, tindakan ini paling tidak memang melahirkan perbincangan: siapa yang menang, karya semacam apa yang dipilih oleh juri-juri andal, berapa hadiah yang diberikan, kritik macam apa yang bertebaran. Situasi semacam ini menggairahkan para penulis sastra karena kemudian ada topik bersama yang menghuni benak dan memenuhi ruang-ruang yang semula sepi dari kasak-kusuk, intrik-intrik kecil, dan kegembiraan mendiskusikan teks para pemenang atau pecundang.
Kita juga paham lalu beberapa lembaga penghargaan mengatrol keterlibatan pembaca dengan melibatkan mereka sebagai penentu kemenangan. Pelibatan semacam itu –paling tidak bertolak dari penjualan buku 20 Cerpen Indonesia Terbaik dan 100 Puisi Indonesia Terbaik yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama dan Anugerah Sastra Pena Kencana—meningkatkan minat baca. Tidak terlalu banyak. Namun ini melahirkan keoptimisan betapa perjuangan untuk menjadikan sastra sebagai ruang kegembiraan estetis bersama tidak boleh dihentikan secara sepihak hanya karena belum seluruh publik membaca, penulis sastra sejahtera, dan penerbit tidak terganjal roda produksinya.
***
Bertolak dari alasan semacam itulah tahun ini –setelah pada 2008 para pembaca menentukan “Cinta di Atas Perahu Cadik” karya Seno Gumira Ajidarma dan “Kidung Pohon” karya Jimmy Maruli Alfian sebagai cerpen dan puisi Indonesia terbaik 2008–, pelibatan pembaca untuk menentukan pemenang dengan cara mengirimkan SMS kepada penyelenggara dilakukan lagi.
Pengiriman SMS semacam itu ternyata mendapat gugatan. Tindakan yang dipahami secara salah sebagai aktivitas yang tidak jauh berbeda dari pengiriman SMS ala Indonesian Idol atau “idola-idola dangdut” di televisi itu dianggap tidak mencerdaskan pembaca. Karena tidak ingin menjadi penyelenggara yang bebal, panitia kemudian mengubah strategi. Pertama, pengiriman SMS tetap dilakukan karena dipandang sebagai cara yang praktis, efektif, dan efisien. Kedua, setiap pengirim diharuskan memberikan opini atau penilaian terhadap teks yang dipilih agar mereka benar-benar masuk ke ceruk karya sastra.
Adapun komposisi juri juga berubah. Jika pada 2008 dewan juri terdiri atas Ahmad Tohari, Budi Darma, Sapardi Djoko Damono, Apsanti Djokosujatno, Jamal D Rahman, dan Sitok Srengenge, maka pada 2009 mereka terdiri atas Budi Darma, Sapardi Djoko Damono, Putu Wijaya, Sutardji Calzoum Bachri, Sitok Srengenge, Joko Pinurbo, dan Linda Christanty. Perubahan ini melahirkan komposisi teks yang berbeda. Jika pada 2008 terpilih 100 puisi terbaik, pada 2009 terpilih 60 puisi terbaik. Tidak semua penyair terdahulu muncul dan tidak sedikit hadir para penyair yang puisi-puisinya tidak termaktub pada buku pertama.
Juri juga memilih 20 cerpen terbaik Indonesia dengan komposisi pengarang yang berbeda dari pemilihan 2008. Beberapa nama lama masih bertengger, tetapi juga muncul nama-nama baru. Ini menggembirakan karena dunia sastra Indonesia tidak stagnan.
***
Dari mana cerpen-cerpen dan puisi-puisi itu dipilih? Harus diakui mobilitas sastra Indonesia hari ini masih tidak beranjak jauh dari koran. Memang ada teks-teks yang lahir di jurnal, panggung, dan lembar-lembar independen. Namun tidak bisa dimungkiri koran masih menjadi ruang utama permainan dan pergolakan teks. Karena itu PT Anugerah Sastra Pena Kencana masih tetap memilih cerpen dan puisi dari pelbagai koran untuk diberi penghargaan. Kriteria pemilihan koran bertolak dari kepedulian media dan mutu sastra yang dihasilkan oleh koran tersebut.
Jika pada 2008 terpilih koran Kompas, Suara Pembaruan, Koran Tempo, Media Indonesia, Republika, Suara Merdeka, Jawa Pos, Lampung Pos, Bali Pos, Pontianak Pos, Fajar, dan Pikiran Rakyat, pada 2009 kami mengganti Media Indonesia, Pontianak Pos dan Fajar dengan Kedaulatan Rakyat, Seputar Indonesia, dan Riau Pos. Media Indonesia tidak terpilih karena mereka menutup ruang puisi dan cerpen, sedangkan dua media terakhir terpilih karena dianggap memiliki kepedulian besar terhadap kehidupan sastra. Pemilihan koran pada 2010 juga akan berubah karena pada kurun itu Republika juga menutup rubrik puisi dan cerpen.
***
Sebagaimana tahun lalu penilaian pertama akan dilakukan oleh 7 (tujuh) orang juri. Mereka menilai karya-karya mulai 1 November 2007 hingga 31 Oktober 2008. Penilaian didasarkan pada nilai rata-rata dari penilaian keseluruhan juri. Jika teks yang dinilai milik seorang juri, maka juri bersangkutan tidak diperbolehkan menilai karyanya sendiri sehingga nilainya adalah rata-rata nilai dari juri-juri lain. Karya para juri dan penyelenggara diperbolehkan dinilai karena untuk menunjukkan realitas sastra Indonesia sepanjang satu tahun penilaian. Jika karya mereka tak dilibatkan justru ada karya-karya sastra yang tersembunyikan.
Setelah terpilih 20 cerpen dan 60 puisi terbaik dan dibukukan oleh PT Gramedia Pustaka Utama, dan pengarang memperoleh penghargaan Rp 3,5 juta untuk satu cerpen dan Rp 750 ribu untuk satu puisi, lalu giliran para pembacalah yang menentukan. Selama beredar di pasaran hingga 30 Juni masyarakat dapat melakukan penilaian dengan mengirimkan SMS kepada Pihak Penyelenggara. Pengiriman SMS akan diatur sedemikian rupa sehingga dapat terlihat jumlah terbanyak untuk menentukan cerpen dan puisi terbaik menurut masyarakat. Pada 1 Juli diumumkan cerpen terbaik dan puisi terbaik dengan hadiah masing-masing Rp 50 juta. Peserta yang mengirimkan penilaian melalui SMS juga berkesempatan memperoleh hadiah yang disediakan dan akan diundi di depan notaris. Kali ini dipilih tiga pemenang, masing-masing mendapatkan Rp 25 juta, Rp 15 juta, dan Rp 10 juta.
***
Apa sebenarnya niat tersembunyi di balik penghargaan yang antara lain digagas oleh pengusaha-penulis semacam Nugroho Suksmanto (Petualangan Celana Dalam), Slamet Widodo (Selingkuh), Eka Kurniawan (Cantik Itu Luka), dan Ratih Kumala (Larutan Senja) ini? Tentu masih ingin berusaha mendorong lembaga mana pun untuk menjadikan sastawan menjadi sosok bermartabat yang mendapatkan penghargaan besar dan menghasilkan karya yang berpotensi menggaet pasar atau pembaca. Selain itu di tengah gebalau berita dan wacana –terutama di koran-koran dan buku-buku—yang kian menebarkan ketaksanggupan bangsa ini lepas dari kutuk krisis, diharapkan karya sastra yang termaktub dalam antologi ini hadir sebagai suara lain yang lebih mencerahkan. Dan penghargaan –juga pembuatan sebuah kitab—adalah sebuah konservasi untuk melindungi suara-suara lain itu.
Semoga kita –para sastrawan, penerbit, dan pembaca—sanggup bertahan untuk bersama-sama menyelamatkan sastra dari ke-nelangsa-an dan kenestapaan kehidupannya.
Jakarta, 1 Januari 2009
Triyanto Triwikromo
Direktur Program