Prolog Penyelenggara (2008)

Anugerah Sastra Pena Kencana 2009

 

 

Sastra Indonesia sebagaimana sastra di belahan dunia lain tak pernah hadir dalam ruang vakum sejarah, jatuh dari langit, atau muncul dari dunia antah berantah. Ia juga tak pernah mungkin hidup tanpa peran, ideologi, industri, atau yang paling penting, pembaca.

Dalam sejarah umat manusia tampak keunggulan sastra sebuah bangsa merupakan salah satu tolok ukur kecemerlangan kebudayaan bangsa itu. Kebudayaan Yunani Kuno, ketika para pemikir besar sekelas Socrates, Plato, dan Aristoteles hidup, tidak mungkin lepas dari sumbangan sastra. Sastrawan-sastrawan Euripides, Aristophanes, Aesop, dan lain-lain telah menunjukkan hal itu.

Sastra akan menjadi salah satu penopang kebudayaan, manakala manfaat sastra dapat dirasakan oleh masyarakat. Dan karena itu apresiasi sastra dan diseminasi karya sastra perlu dilaksanakan dengan baik. Dengan demikian, gairah untuk menulis karya sastra yang baik akan terpacu. Apabila sastra dibiarkan stagnan, maka sastra tidak akan lagi merupakan kebutuhan bagi masyarakat.

Baik kebudayaan maupun sastra tidak akan berjalan dengan baik, apabila perkembangan kebudayaan dan sastra dibiarkan menggelinding dengan sendirinya. Arah perkembangan perlu diperhitungkan, agar kebudayaan dan sastra pada masa-masa yang akan datang dapat bermanfaat bagi keseluruhan masyarakat. Dengan mengacu kepada manfaat ini, perlu diprogramkan kegiatan-kegiatan yang dapat memacu kreativitas, apresiasi, dan disemenasi karya sastra di masyarakat.

Mengapa sastra Indonesia belum mendapat nobel? Jangankan memperoleh anugerah tertinggi dan bermartabat itu, cerpen dan puisi -dua genre terpopuler dan paling banyak diciptakan oleh para sastrawan–memang tidak pernah “dididik” atau dikondisikan untuk mendapatkan penghargaan yang memadai. Honorarium tertinggi untuk satu puisi saat ini, misalnya, hanya mencapai Rp 250 ribu dan cerpen berkisar Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta. Bahkan masih ada surat kabar yang memberikan honorarium untuk satu puisi Rp 50 ribu dan cerpen Rp 100 ribu.

Memang setiap tahun beberapa institusi kemudian memberikan hadiah untuk cerita dan puisi terbaik. Untuk satu cerpen terbaik, misalnya, Harian Kompas memberikan penghargaan sampai Rp 15 juta, sedangkan Departemen Pariwisata dan Kebudayaan hanya Rp 5 juta. Kecuali Departemen Pariwisata dan Kebudyaan memberikan hadiah untuk puisi utama sebesar Rp 5 juta, nyaris tak ada lembaga yang secara rutin memberikan penghargaan untuk puisi.

Penghargaan tahunan cukup besar -terkini Rp 100 juta– memang diberikan oleh Khatulistiwa Literary Award untuk kumpulan puisi dan cerpen terbaik. Meskipun telah menulis 1000 puisi bagus, seorang sastrawan tidak berhak mendapatkan hadiah itu jika ia belum menulis buku. Dengan kata lain untuk mendapatkan penghargaan besar, sastrawan harus menunggu bertahun-tahun.

Anugerah Sastra Pena Kencana hadir untuk memangkas jalur yang terlalu lama dan ingin lebih memartabatkan sastrawan. Karena itu selain setahun sekali memberikan penghargaan tertinggi untuk satu puisi dan cerpen terbaik, juga meningkatkan jumlah hadiah. Untuk 2008, puisi dan cerpen terbaik, masing-masing Rp 50 juta. Nilai penghargaan itu diharapkan dari tahun ke tahun meningkat.

Lalu puisi-puisi dan cerita pendek dari mana saja yang akan diberi penghargaan? Karena tak bisa dimungkiri betapa sastra hari ini adalah “sastra koran”, maka karya-karya yang akan dinilai adalah cerpen dan puisi yang dimuat di surat kabar yang telah ditentukan. Adapun untuk tahun ini surat kabar terpilih itu meliputi Kompas, Suara Pembaruan, Koran Tempo, Media Indonesia, Republika, Suara Merdeka, Jawa Pos, Lampung Pos, Bali Pos, Pontianak Pos, Fajar, dan Pikiran Rakyat. Surat kabar-surat kabar itu dianggap mewakili pemuatan karya sastra dari seluruh Indonesia. Surat kabar terpilih dapat berubah, tergantung apakah media bersangkutan masih peduli pada sastra atau tidak. Sebagai contoh Media Indonesia tidak dipilih lagi untuk penilaian mendatang karena koran ini telah menghilangkan rubrik puisi dan cerpen dalam penerbitan. Sebaliknya Kedaulatan Rakyat, Seputar Indonesia, dan Riau Pos terpilih karena kian besar kepedulian mereka terhadap cerpen dan puisi.

Selanjutnya penilaian pertama akan dilakukan 7 (tujuh) orang juri yang ditunjuk oleh penyelenggara, yaitu Dewan Direksi PT Kharisma Pena Kencana. Juri kali ini terdiri atas Prof Dr Sapardi Djoko Damono, Prof Dr Budi Darma, Prof Dr Apsanti Djokosujatno, Ahmad Tohari, Sitok Srengenge, Joko Pinurbo, dan Jamal D Rahman menilai karya-karya selama satu tahun, dimulai pada 1 November 2006 hingga 31 Oktober 2007 untuk menghasilkan 20 cerpen terbaik dan 100 puisi terbaik. Penilaian didasarkan pada nilai rata-rata dari penilaian keseluruhan juri. Jika seorang juri karyanya ikut dilombakan, maka juri yang bersangkutan tidak diperbolehkan menilai karyanya sendiri sehingga nilainya adalah rata-rata nilai dari juri-juri lain.

Mengapa karya para juri dan penyelenggara diperbolehkan dinilai? Ini semata-mata untuk menunjukkan realitas sastra Indonesia sepanjang satu tahun penilaian. Jika karya mereka tak dilibatkan justru ada karya-karya sastra -yang mungkin saja bagus–tersembunyikan.

Setelah terpilih 20 cerpen dan 100 puisi terbaik dan dibukukan oleh PT Gramedia Pustaka Utama, dan pengarang memperoleh penghargaan Rp 3,5 juta untuk satu cerpen dan Rp 750 ribu untuk satu puisi, lalu giliran para pembacalah yang menentukan. Selama beredar di pasaran hingga 15 Agustus masyarakat dapat melakukan penilaian dengan mengirimkan SMS kepada Pihak Penyelenggara. Pengiriman SMS akan diatur sedemikian rupa sehingga dapat terlihat jumlah terbanyak untuk menentukan cerpen dan puisi terbaik menurut masyarakat. Pada 1 September diumumkan cerpen terbaik dan puisi terbaik. Peserta yang mengirimkan penilaian melalui SMS juga berkesempatan memperoleh hadiah yang disediakan dan akan diundi di depan notaris. Kali ini dipilih tiga pemenang, masing-masing Rp 25 juta, Rp 15 juta, dan Rp 10 juta.

Mengapa melibatkan pembaca? Selain hidup tanpa penghargaan yang memadai, sastra kita juga hidup dengan sedikit pembaca. Dengan melibatkan lebih banyak pembaca dalam menentukan sastra yang diinginkan, diharapkan sastra kita tidak terasing dari masyarakat. Selain itu melibatkan pembaca dalam penilaian dunia sastra kita akan kian mampu menjaring pendukung yang lebih luas. Ketinggian budaya sebuah bangsa, ditandai antara lain dengan meluasnya apresiasi masyarakat terhadap sastra.

Sastra akan menjadi bagian dari budaya hanya bila karya-karya yang diciptakan dapat singgah di hati insan-insan yang merupakan bagian dari masyarakat, yang kemudian menjadi sebuah kecintaan untuk menikmati dan akhirnya melahirkan keinginan untuk menggubah.

Kecintaan akan sastra perlu ditumbuhkan melalui program yang dapat menggugah kesadaran dan kemudian melahirkan keterlibatan sehingga diharapkan dapat memunculkan komunitas pecinta sastra yang semakin luas yang akan berperan mewarnai kiprah bangsa dan negara dalam memajukan peradaban, dengan nilai-nilai luhur dan artistik yang terkandung dalam karya-karya sastra.

Dengan alasan semacam itu pulalah, program penganugerahan sastra dibuat. Selain akan bisa meningkatkan gairah bersastra, program semacam ini bisa diharapkan meningkatkan martabat karya sastra di tengah-tengah produk kebudayaan lain. Produk-produk kebudayaan lain -semisal lukisan–telah mampu menghidupkan para kreatornya, sedangkan sastra, kita tahu, belum bisa menyejahterakan para pendukungnya. Hanya dengan pemberian penghargaan yang tulus terhadap sastra, produk kebudayaan ini akan bermartabat dan berguna bagi masyarakat dan bangsa.

Akhirnya, semoga penghargaan yang diberikan oleh Anugerah Sastra Pena Kencana ini bermanfaat bagi dunia sastra, pembaca, dan industri yang menopang kehidupannya.

Jakarta, 1 Februari 2008
Salam Sastra,

Triyanto Triwikromo
Direktur Program