17 Feb 08

Sastra Milik Siapa?

Tentu yang paling berkompeten terhadap sastra adalah komunitas sastrawan. Yakni mereka yang mengklaim “beralaskan hati dan pikiran yang jernih” berkarya untuk Tuhan (baca; kesadaran dirinya) dan bagi kemaslahatan manusia.
Mereka tentu berusaha terbebas dari pengaruh, apalagi tekanan, yang beorientasi komersial, sehingga setiap usaha ke arah itu pasti akan dicurigai sebagai upaya merusak kesucian karya dan [...]

Tentu yang paling berkompeten terhadap sastra adalah komunitas sastrawan. Yakni mereka yang mengklaim “beralaskan hati dan pikiran yang jernih” berkarya untuk Tuhan (baca; kesadaran dirinya) dan bagi kemaslahatan manusia.

Mereka tentu berusaha terbebas dari pengaruh, apalagi tekanan, yang beorientasi komersial, sehingga setiap usaha ke arah itu pasti akan dicurigai sebagai upaya merusak kesucian karya dan akan menodai dunianya. Bahkan seperti yang disampaikan pada milis Apresiasi-Sastra oleh Wayan Sunarta dan Saut Situmorang, dikhawatirkan penghargaan “Pena Kencana” dapat menjadi “Pena Bencana”.

Saya kira kekhawatiran tersebut perlu menjadi bahan renungan dan pemikiran bagi penyelenggara penghargaan seperti KLA dan Pena Kencana. Jangan–jangan maksud penyelenggaraan penghargaan yang bertujuan mulia, malah menciptakan suasana yang membuat skeptis para sastrawan, sehingga akhirnya mereka menolak diikutsertakan dalam penilaian dan hingga pada akhirnya tidak melahirkan representasi karya prosa maupun puisi terbaik Indonesia.

Kekhawatiran yang utama adalah terhadap mekanisme penilaian yang dilakukan oleh Dewan Juri. Saya kira saran–saran dari para kritikus sastra perlu diperhatikan, yaitu terutama yang menyangkut pilihan juri dan kriteria penilaian serta keikut sertaan karya anggota dewan juri dalam penilaian.

Yang menjadi pembahasan selanjutnya adalah ; apakah juri ditunjuk dari kalangan pengamat, atau dari kalangan sastrawan ?. Setelah mendengar masukan dari cukup banyak pihak mewakili berbagai kalangan sastra, dengan konsep Sastra untuk Sastra, akhirnya disarankan untuk menunjuk Juri dari kalangan para sastrawan.

Pertanyaan berikutnya adalah, apakah juri tidak boleh berkarya selama menyandang posisi sebagai anggauta Dewan Juri ? Rasanya penyelenggara tidak selayaknya memasung karya mereka – secara moralpun tidak dibenarkan, bila memang karya – karyanya layak untuk dipilih dan mendapat penghargaan. Maka penyelenggara menyerahkan kepada para Juri untuk merancang mekanisme ( tata cata & tata laksana ) yang sesedikit mungkin menimbulkan kritik dan kecaman. Namun disadari, bahwa tidak akan dapat menghindarkan munculnya kecurigaan dan kekecewaan.

Sejauh ini Pena Kencana telah menyadari setiap pilihan yang dilakukan pasti akan melahirkan kontroversi. Tetapi hal ini telah dicoba untuk diatasi dengan mengganti tiga dari tujuh orang juri yang dipilih, dan dengan demikian komposisinya berubah setiap tahun. Rasanya penyelenggara sama sekali tidak akan berkeberatan untuk menerima usulan dan masukan dari para kritikus sastra tentang pilihan juri , karena sama sekali tak ada vested, selain untuk mendapatkan pilihan yang diapresiasi oleh masyarakat sastra.

Setelah selesai penjurian, rasanya perlu Dewan Juri memberikan penjelasan dan pertanggungjawaban atas penilaian yang telah dilakukan, agar dipahami oleh para pecinta sastra. Walaupun dengan demikian, tetap tidak akan dapat memuaskan semua pihak.

Tentang kecurigaan terhadap Dewan Juri yang akan mengupayakan karyanya masuk dalam pilihan, rasanya telah dapat ditepis dengan tidak memberikan kesempatan para juri menilai karyanya sendiri. Bahkan dari pertemuan–pertemuan yang dilakukan oleh dewan juri, terasa suasana pekewuh dari dewan juri untuk mengusulkan karyanya masuk nominasi. Tetapi saya kira tak selayaknya penyelenggara penghargaan menghalangi seorang juri dari berkarya selama setahun dan memasung karyanya yang memang berkualitas dari perolehan penghargaan.

Lalu apa salahnya jika dari karya–karya pilihan juri, kemudian masyarakat diberikan kesempatan menentukan pilihan menurut selera mereka, yang kemudian akan dinobatkan sebagai Karya Terbaik Pilihan Pembaca.

Yang perlu disosialisasikan adalah tujuan diadakan penghargaan dengan konsep yang berujung melibatkan masyarakat memberikan apresiasi. Yang tak lain adalah untuk menumbuhkan minat membaca masyarakat, dengan memperkenalkan karya–karya sastra pilihan. Dengan tumbuh gairah membaca, masyarakat akan lebih mengenal karya–karya sastra dan pada akhirnya menyayangi. Kata pepatah; tak kenal maka tak sayang!

Terciptalah dengan demikian, pasar yang lebih luas dan lebih besar atas karya tulis, baik dalam bentuk buku–buku maupun media lain. Yang pada akhirnya akan menumbuhkan prospek usaha penerbitan yang lebih cerah dan menjanjikan, yang kemudian hasilnya dapat dinikmati oleh masyarakat sastra, berupa imbalan berkarya yang sepantasnya diterima. Selanjutnya akan memotivasi kemunculan sastrawan-sastrawan baru dengan karya–karya yang lebih bermutu.

Bila itu terjadi, maka komunitas sastra harus bersiap-siap menyadari, bahwa sastra bukan lagi hanya milik para sastrawan, tetapi dimiliki juga oleh masyarakat pecinta sastra, yang akan menjadi sangat besar jumlahnya. Ini tentu menuntut sastrawan berlapang dada, ketika ladang miliknya dirambah oleh para pendatang, yang “gairah”-nya dapat melahirkan bencana, bila tak dapat dijaga kemurnian dan integritasnya.

Mudah–mudahan masyarakat sastra tidak dihadapkan pada pilihan seperti yang dihadapi penyelenggara Liga Sepak Bola; menghindari kerusuhan, lebih baik pertandingan dilakukan tanpa penonton!

Bintaro Jaya, 17 Pebruari 2008.
Nugroho Suksmanto
Penyelenggara Penghargaan Pena Kencana

Nugroho Suksmanto, seorang penulis, karyanya antara lain kumpulan cerpen Petualangan Celana Dalam (Gramedia, 2007). Karya terbarunya Renung Canda Pelawak Bersorban (Koekoesan, 2008). Ia salah seorang pendiri dan anggota board Anugerah Sastra Pena Kencana.

Hak cipta dan tanggung jawab isi komentar ada pada masing-masing penulis komentar. Pena Kencana berhak tidak menampilkan komentar yang tidak relevan dengan isi website ini.

41 Komentar

  • Sindu Putra - February 18, 2008 | Permalink

    respon yang bagus
    biasa ajalah
    anugerah-anugerah seperti ini perlu juga untuk menggairahkan minat menulis dan membaca
    inikan strategi promosi juga

    oh ya
    Saya tinggal di Mataram Nusa Tenggara barat
    disini tidak ada toko buk Gramedia
    gimana caranya kawan-kawan disini dapat ke dua buku itu
    thank

  • penakencana - February 18, 2008 | Permalink

    penulis yang karyanya masuk ke dalam buku ini akan memperoleh nomor bukti, dikirim oleh Penerbit. Untuk yang berminat, juga bisa memesannya langsung ke Gramedia Pustaka Utama.

  • Wayan Sunarta - February 19, 2008 | Permalink

    Saya mendukung dan senang jika ada banyak ajang award-awardan seperti ini, namun semestinya diselenggarakan dengan sistem yang sehat, terutama saat penilaian dan penjurian karya. Sepanjang pengetahuan saya tentang suatu kompetisi (kalo boleh Anugerah Pena Kencana digolongkan sebagai suatu kompetisi), belum pernah ada kasus karya juri juga ikut dinilai, sekalipun oleh juri lainnya. Karena kalau seseorang sudah ditunjuk menjadi juri dan mendapat imbalan yang pantas atas kerjanya sebagai juri, semestinya berlapang dada untuk tidak mengikutkan karyanya dalam kompetisi tersebut. Semestinya ada aturan bahwa karya juri tidak ikut dinilai untuk menghindari citra buruk terhadap kompetisi yang diselenggarakan dengan susah payah ini.

    Bagi saya kalau alasannya untuk berjaga-jaga jika ada karya bagus dari juri yang luput dari penilaian karya terbaik, justru alasan yang dangkal. Masalahnya, siapa yang bisa menilai dan dengan tolak ukur apa (kecuali selera subjektif) jika karya seorang juri bisa lebih bagus dengan karya lain yang bukan juri yang kemungkinan bisa luput dari penilaian? Yang namanya sebuah kompetisi, karya bagus dan tidak bagus tentu relatif dan subjektif, apalagi jika karya yang dinilai jumlahnya ratusan dan masing-masing memiliki keunikan tersendiri.

    Dalam kasus puisi, tentu akan muncul standar penilaian team juri, entah itu masalah kebaruan, irama, bunyi, eksplorasi dan lain-lain yang berkaitan dengan isi dan bentuk suatu puisi. Nah standar penilaian inilah yang saya kira perlu dijelaskan dalam suatu pertanggungjawaban dewan juri secara terbuka, bukan semacam esai umum seperti yang ditulis juri dalam situs ini. Tentu ini akan menimbulkan kontroversi juga, tapi bagi saya justru bagus untuk mencapai suatu hasil yang maksimal pada penyelenggaraan berikutnya.

    Kalau misalnya bicara masalah kebaruan gaya ucap sebagai salah satu tolak ukur karya berkualitas, saya kira banyak juga puisi yang masuk dalam pilihan juri Pena Kencana ini yang masih bernafaskan dan berbau Sapardi, Goenawan Mohamad, Joko Pinurbo, Sitok Srengenge. Sejauh pengamatan saya pada pemuatan puisi-puisi koran setahun itu, terutama koran Bali Post, Kompas, Media Indonesia, saya melihat ada sejumlah puisi yang cukup berkualitas dan lepas dari bau para penyair yang saya sebutkan di atas, yang justru luput dari penilaian. Di Bali Post, misalnya, saya amati banyak puisi unik (dari segi eksplorasi isi dan bentuk) yang dimuat oleh Umbu yang ditulis oleh para penyair angkatan terdahulu saya, yang justru luput dan malah dikalahkan oleh karya para penyair muda usia dan muda pengalaman yang jelas-jelas karyanya masih perlu polesan lebih tekun. Apakah para penyair yang menjadi juri ingin membuat kanon puisi tertentu berdasarkan selera puisinya saja, sehingga mengesampingkan karya-karya unik yang lain?

    Saya malah pingin tahu dari argumen dewan juri, seperti apa sih puisi yang bagus dan berkualitas itu? Mengapa misalnya puisi yang satu bisa kalah dengan puisi yang lainnya? Apa standar penilaiannya? Semakin banyak perdebatan dan diskusi, justru bagi saya semakin bagus buat Pena Kencana nantinya.

    Terima kasih atas penjelasannya.

  • Hartono Parbudi - February 19, 2008 | Permalink

    Way to go!
    Memang sebaiknya event ini diadakan dan didukung oleh orang-orang yang benar-benar perduli akan kesusasteraan.

  • Chairil Anwar - February 19, 2008 | Permalink

    Oh, penyair muda Indonesia, kalian semua anak-anakku! Jangan ribut soal penghargaan, apalagi uang! Jangan suka membearkan diri sendiri, nanti kalian malah jadi kerdil!

    Bertahun-tahun kuolah kata-kata, tanpa mengharap apapun selain karya itu sendiri. Kubuat tantangan sendiri dalam benakku, agar aku tak tergoda menggapai tangga-tangga yang ditawarkan orang lain, entah lembaga, sayembara, atau media massa.

    pegang erat kata-kataku, jadilah penyair dan jangan jadi pelacur, meski penyair sama sekali bukan orang suci, apalagi nabi.

    Luka dan bisa kubawa berlari
    Berlari
    Hingga hilang pedih peri…

    Salam dari Karet,
    CA

  • maria hartiningsih - February 21, 2008 | Permalink

    Saya agak khawatir dengan cara ini, kecuali pembacanya ditentukan. Bukan berarti mau eksklusif, tetapi kalau dilepas, kesannya seperti mencari idol dalam kontes-kontes di dunia pop.

  • Badrun - February 27, 2008 | Permalink

    Saya setuju mbak maria hartiningsih, ini memang “eksperimen” yang hasilnya bisa saja konyol. Tapi masilah kita tunggu saja.

  • Cek Resa - February 27, 2008 | Permalink

    ya bagus. jalan terus jangan mundur okei. aidel-aidelan untuk penulis. hehe.

  • GPS - February 27, 2008 | Permalink

    Saya rasa orientasi penyelenggara adalah untuk memiliki suatu ajang yang dapat disandingkan dengan Anugerah Khatulistiwa, jika tidak melebihi Anugerah Khatulistiwa.

    Selain menghadirkan figur-figur baru (jika kemudian tidak berakhir menjadi pemberian martabat pada figur-figur lama) saya rasa tidak ada banyak manfaat yang dapat diberikan oleh anugerah ini. Kesusastraan disusun dari buku, dan salah satu alasan kenapa sastra kita kesannya amat terpuruk adalah karena sastra kita masih bergantung pada sastra koran/jurnal. Dan buku kumpulan bersama hanya akan menjadi pemecahan yang bersifat stop gap saja. Apakah dimuat dalam kumpulan bersama Pena Kencana nanti otomatis berarti sipenyair/pengarang akan dapat menerbitkan buku puisi/cerpennya? Apakah buku tersebut akan memudahkan pendokumentasian karya sastra yang kemudian juga mendorong pertumbuhan kritik sastra?

    Kesustraan disusun dari karya sastra dan bukan tokoh-tokoh sastra. Sekedar keramaian tak lagi cukup, malah, saya katakan, tak pernah mencukupi.

  • Faisal Kamandobat - February 28, 2008 | Permalink

    Kepada Yth.
    Pena Kencana
    Di Tempat

    Dengan tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada pihak Pena Kencana, dan penghargaan kepada dewan juri yang telah memilih puisi saya ke dalam daftar 100 Puisi Terbaik Indonesia 2007, saya menyatakan mundur dari penghargaan Pena Kencana, degan alasan sebagai berikut:

    1.Puisi-puisi saya adalah usaha mengeksplorasi proposisi logis bahasa untuk tujuan estetika, dan oleh karena itu tidak bisa dikompensasi dengan sebuah peghargaan yang tidak berkaitan dengan hal itu, pula dengan alasan estetik lain yang dapat didengar dan dipertanggung-jawabkan di hadapan publik sastra.
    2.Bagi saya, penghargaan yang paling layak dan terhormat terhadap karya sastra adalah dengan kritik sastra dan bukan dengan polling sms yang tidak didukung argumentasi literer yang memadai.
    3.Usaha ekonomisasi sastra secara berlebihan akan menimbulkan dampak luas terhadap khazanah sastra kita, yaitu nilai ekonomi akan lebih menentukan kualitas sebuah karya sastra dibanding nilai estetik, ilmiah dan humanik, terlebih melihat tradisi tersebut belum sunguh-sungguh mapan dalam khazanah sastra kita.
    4.Terdapat beberapa penyair selain saya yang lebih layak mendapatkan penghargaan ini, dengan menimbang intensitas, produktivitas, dan capaian estetiknya, di antaranya Raudal Tanjung Banua yang tekun mengekplorasi nuansa Melayu klasik sehingga tetap aktual dalam khazanah puisi Indonesia kontemporer, Riki Dhamparan Putra yang berusaha mengolah mistisisme dengan caranya sendiri dalam puisi-puisinya, dan I.G. Samargantang yang sangat kreatif mengekplorasi puisi magis Bali dalam karya-karyanya, serta banyak penyair lain yang penuh bakat dan dedikasi.

    Demikian surat pengunduran diri ini saya buat, semoga dapat dimengerti oleh pihak Pena Kencana khususya serta masyarakat sastra Indonesia pada umumnya. Adapun honor puisi saya berjudul Aku Mencintai Kalian sebesar Rp. 750.000,00 akan saya kembalikan ke alamat Pena Kencana lewat kantor pos.

    Hormat saya,
    Faisal Kamandobat

  • LUCKY - February 29, 2008 | Permalink

    buat panitia, maju terus ya, ga usah peduliin orang-orang yang sirik yang dengki. sastra indonesia ga maju-maju krn orang-orangnya juga. Ga dikasih award, bilang ga ada yang menghargai, dikasih award, curigaan mulu tanggapannya, emang susah. Maunya apa sih? udah gitu berantem sendiri deh antar penulis, ngomongin yang ga penting. SALUT BUAT PENA KENCANA. SEMOGA SUKSES!

  • LUCKY - February 29, 2008 | Permalink

    ..satu lagi, jangan pikir ini award untuk kalian para penulis sastra yang elit aja yah, kesempatan award ini juga untuk saya: PEMBACA!

  • yohanes.dion - February 29, 2008 | Permalink

    tul! ga pernah ada tuh award untuk pembaca kecuali di pena kencana. malah ga pernah ada tuh perhatian buat pembaca. Pdhal tanpa pembaca, penulis tidak akan bermakna. Saya sih tdk mau munafik. Saya akan seneng banget kalo dapet 25 juta hehehe… :-)

  • sastra kota - March 3, 2008 | Permalink

    naga-naganya neh, pemenangnya adalah yang punya banyak uang atau punya banyak famili yang bertebaran di beberapa pulau terutama di kota yang punya banyak fasilitas. SMS tidak mengenal kualitas, yang ada primordialisme, pertemanan. Semoga penyairnya tidak jadi pelacur deh. phuihhh.

  • sastra kota - March 3, 2008 | Permalink

    bhrengsheks neh idol-idolan baru di dunia sastra. pemenangnya adalah …. yang punya banyak famili yang banyak duit… horeeee. dasar penyair pelachur.

  • partamba - March 4, 2008 | Permalink

    niat anugerah sastra pena kencana patut dihargai bila dengan luhur dalam rangka menghargai para sastrawan yang berkarya lewat koran dan lebih mendekatkan karya-karya sastra kepada pembaca umumnya, tetapi semoga tidak terpeleset pada arus duitisasi.ya, kita lihat saja ke tahun depan lagi….

  • erka azhari - March 4, 2008 | Permalink

    AKU CINTA Pena Kencana !!! Semoga event seperti ini bisa menjadi agenda tahunan. Tidak menjadi agenda pertama dan terakhir kalinya. Ini akan menjadi motivasi berkreasi bagi masyarakat dalam dunia tulis menulis. Terpenting adalah cantiknya Bahasa Indonesia akan tampil utuh. Bangsa kita harus belajar menghargai khazanah budaya bahasa Indonesia yang indah ini…, yang sepertinya mulai terasa asing bagi kalangan ‘muda’ negeri ini.

    Puisi dan sastra Indonesia adalah salah satu media kreatif imajinatif yang bisa mengasah kepekaan terhadap sekitar. Juga menumbuh kembangkan dan memperkaya khazanah budaya bahasa.
    Semoga masyarakat kita akan memiliki apreseasi yang baik karya sastra ANAK NAGARI. juga PEMERINTAH NAGARI ini. SEMOGA.

    Salam Cinta sastra Indonesia,
    Erka Azhari.

  • beny - March 4, 2008 | Permalink

    kemana sastrawan minangkabau….?tidak adakah orang minang yang mampu membuat karya sastra yang besar seperti terdahulunya….sungguh malu sebagai orang minang yang tak dapat lagi berkarya satra.semoga tahun esok karya orang minang kembali kepermukaan…

  • Sunlie Thomas A. - March 5, 2008 | Permalink

    Oh, sahabatku Faisal, aku bisa memahamimu… tapi seperti pula Chairil, aku butuh duit untuk hidup, kawan! Dan sastra (berbahasa) Indonesia kadangkala memerlukan penghargaan berupa duit! Bisa sekarat nunggu kritikus sastra lahir di negeri ini…

  • Masao - March 5, 2008 | Permalink

    To Yth. Faisal Kamandobat

    Saya adalah seorang pencinta puisi Faisal Kamandobat, Raudal Tanjung Banua, Riki dhamparan dan lain -lain. Saya sangat terharu atas sikap Faisal Kamandobat ini. Bagi saya ini adalah contoh bagaimana mestinya jadi penyair. Saya semakin mengagumi Faisal dengan kemundurannya ini. Nah, tanggapan Sun Lie itu meurut saya tanggapan orang yang lemah hati. demi uang menyembunyikan kesalahan?
    Salam untuk Faisal Kamandobat. Apa yang dikatakannya perlu kita renungi.

    Masao

  • Faisal Kamandobat - March 5, 2008 | Permalink

    Buat Sunlie Tomas alexander, maju terus di Pena Kencana, nanti aku bantu Promosi buatmu, semoga beruntung. Buat teman2 Pena kencana, maju terus, sebab aku yakin kalian punya prinsip yang mungkin bagus buat dunia sastra secara umum, kendati aku pribadi kali ini sedang berseberangan. Ok, semangat selalu sastra Indonesia. Matur nuwun.

  • lirka - March 5, 2008 | Permalink

    Yang menarik ni surat pernyataan Faisal Kamandobat. Karena merupakan tindakan ajaib bagi sastra Indonesia sekarang. Mengingatkan kita pada Sanusi Pane di masa lampau yang menolak pengharghaan pemerintah soekarno padanya. mengingatkan pada penyair Umbu Landu Paranggi juga yang menolak Gatra Award dulu. Saya kira, itulah wujud apresiasi yang kongkrit.

  • FH RAMADHANI - March 6, 2008 | Permalink

    salam kenal dariku.
    aku anak madura. aku sangat berterima kasih pada pihak pena kencana karena telah menerbitkan antologi tersebut dan mudah-mudahan terbitnya antologi itu dapat menambah koleksi sastra di indonesia.

    aku mau nanya, apa pihak pena kencana bisa menerbitkan puisiku? soalnya aku susah banget cari alamat penerbit lain yang bisa menerbitkan karya sastra berupa puisi. tolong ya….

  • yohanes.dion - March 6, 2008 | Permalink

    kalo saya baru tahu faisal dari situs ini, bagaimana pun, penulis/penyair di proyek ini (baik yang mundur or maju trus, mau yg go publik atau yg di situ-situ aja seperti kura-kura = sastra dengan tempurungnya) telah terpromosikan. bukankah dari jaman dulu para penulis sastra sifatnya kayak gitu itu, ada aja yang pro n kontra. BTW, selamat! saya dengar peluncurannya sukses walopun ujan deres banget!

  • co biru - March 7, 2008 | Permalink

    aneh ya ada award-award segala di dunia sastra, apalagi penjuriannya dan pemenangnya kok pake sms-an segala? apa gak rugi ? buat cetak buku aja sebanyak-banyaknya sastra kan maju, yank gak kwalitas, yang gak serius di penulisan, yang gak peduli pada sastra mundur sendiri kok! kasian ya pada panitianya kok mo susah-susah, saya yakin hasilnya akan memble ya gara-gara ujung-ujungnya cuma duiiiiiiiiiiiit… saya dukung sikap faisal kamandobat. hidup faisal kamandobat! hidup faizal kamandobat ! tak perlu menjadi penyair besar hanya melalui jalan pena kencana award!

  • Alek s. - March 7, 2008 | Permalink

    saat ini, sesuatu yang berseberangan memang mendapat tempat baik.sebagai peristiwa penyegaran. dalam pengertian lain, yaitu, tanpa konflik berarti siap tidak bertahan. hingga banyak konsep yang menyerap perseteruan menjadi bagian dari manajemen, baik pemilihan artis maupun pemilihan kepala desa.hanya saja sebagian besar perseteruan berjalan dengan irama romantik libidis.

  • Seseorang - March 9, 2008 | Permalink

    dengan pena kencana kita bisa membuktikan:
    1. apakah pembaca sastra di indonesia sebagian orang kaya/tidak?
    2.apakah sastra bisa dinilai dengan materi?
    3.atau apakah sastra akn masuk ke dalam dunia pop? sehingga nantinya makin banyak sastrawan alih pfofesi jadi bintang layar kaca.

  • aseprochmat - March 10, 2008 | Permalink

    Pada Minggu, 9 Maret 2008, jadi 4 hari sesudah peluncuran buku “20 Cerpen Terbaik Indonesia” dan “100 Puisi Terbaik Indonesia”, saya cari kedua buku itu di Gramedia Mal Kelapa Gading (MKG) dan Gramedia Pondok Indah (PIM) tak ketemu. “Kosong” kata penjaga di toko buku Gramedia PIM. “Kosong” itu apa artinya? Tak ada, belum sampai, tak akan pernah sampai, atau sudah habis? Biasanya produk Gramedia Group (GPU, Grasindo, Elex, KPG, Penerbit Kompas) langsung dapat dijumpai di toko buku Gramedia di mana-mana (sampai Balikpapan)sesudah peluncuran. Mengawinkan sastra (apalagi puisi) dengan bisnis (baca: kapitalisme) memang berisiko tinggi. Ini eksperimen yang luar biasa berani, dengan risiko rugi. Apalagi bukunya, dengan idealisme yang tinggi, tidak memuat iklan dan pesan sponsor, padahal ilustrasi sampulnya bagus. Koran memang sudah mengawinkan puisi dengan bisnis dan hasilnya relatif oye. Lihat saja Kompas Minggu, satu halaman rubrik sajak-sajak: sajak-sajaknya menduduki dua pertiga halaman, sepertiganya iklan. Jadi (seharusnya) siapa bilang buku puisi harus sepi dari iklan? He..he. Belajarlah dari penyair yang bernama Eka Budianta. Kapitalis harus punya semangat filantropi. Begitu kata beliau waktu Kongres Kebudayaan di Bukittinggi 2003. Bukan begitu, mas Eka?

  • ars - March 10, 2008 | Permalink

    kalo ya dapat sms terbanyak karya dewan juri atau penyelenggara… asik donk…

  • Heru Kurniawan - March 13, 2008 | Permalink

    Tuk Pene Kencana
    dan kawan-kawan pegiat sastra

    bagi saya, apa yang dilakukan Pena Kencana adalah fenomena. aku menghargainya, apapun tujuan dan kepentingannnya.
    bagi kawan-kawan yang pro dan kontra, juga bagiku itu fenomena. aku menghargainya. apapun alasannya.
    yang ingin saya ungkapkan, di zaman yang tak jelas ini, kita harus junjung PLURALITAS–
    perbedaan adalah indah.
    selanjutnya, kita apresiasi saja apa yang dilakukan PENA KENCANA,kawan-kawan yang berargumen semua benar–tapi kebenaran ini akan terungkap lewat “MEKANISME SOSIAL” yang akan melakukan “SELEKSI”

    selamat untuk para pemenang….

  • Kancil Kencana - March 22, 2008 | Permalink

    Heran 1. Hari gini kok masih banyak yang ngeributin sastra vs bisnis ya? Cuma di kasus Pena Kencana pula. Kok gak ada yang memprotes bisnis sastra oleh penerbit besar di seluruh dunia, atau oleh industri film yang ngangkat karya sastra ke layar bioskop/tv? Ketimbang mikirin bisnis-sastra, mending coba bikin sastra-bisnis - siapa tau jadi genre sastra baru di Ind.

    Heran 2. Kok gak ada tanggapan Panitia soal kasus penolakan Faisal K? Ada pro-kontra, tp cerita sebenernya gmn sih? Apa Panitia gak kontak dia dulu sebelum kasi award? Kalau gak ada kontak, gmn duit hadiahnya bisa terkirim ke dia (n akhirnya dibalikin)? Sebab, kalau ternyata Panitia dah kontak n dia OK, trus belakangan dia nolak padahal dah telanjur masuk buku (jg website dll), berarti payah banget mental tuh anak. Cari popularitas murahan aja.

  • Kacong Mellas - March 27, 2008 | Permalink

    Aku bukan penyair atau sastrawan tetapi lihatlah darahku yang menetes ini, betapa indahnya sastra. Oh, ya buat temanku Faisal aku salut dengan sikapmu terhadap pena kencana award. Hal Ini menandakan bahwa dunia sastra indonesia mengalami sebuah “kekacauan” yang perlu diperbaiki, entah itu melalui kritikus atau penyair itu sendiri. Selama ini saya melihat orang-orang sastra hanya membenarkan isi kepalanya sendiri. aku tak ingin mengatakan hidup jogja, hidup jakarta, hidup lampung dan lain sebagainya. aku ingin mengatakan Hidup kami bukan hidup kita. HIDUP SASTRA INDONESIA!

  • asep - March 28, 2008 | Permalink

    “aneh ya ada award-award segala di dunia sastra, apalagi penjuriannya dan pemenangnya kok pake sms-an segala? apa gak rugi ? kasian ya pada panitianya kok mo susah-susah, saya yakin hasilnya akan memble ya gara-gara ujung-ujungnya cuma duiiiiiiiiiiiit… ” —————

    apanya yang aneh dengan “award” didunia sastra kawan? bukankah nobel juga adalah sebuah “award”…? juga ribuan “award” lainnya di seluruh penjuru dunia..

    apakah Panitia rugi? sepertinya itu urusan intern perusahaan,.. tapi pastinya tidak, karena manusia profesional pasti sudah merumuskan dan menghitung pengeluaran, serta memprediksi pemasukan.

    Panitia mencari uang? tentunya iya,.. siapa sih manusia bisa hidup tanpa uang. tapi tentunya tidak “hanya” uang yang dicari bukan..? kalau hanya uang, berdagang daging dipasar lebih cepat menghasilkan tentunya.. untuk apa mengurusi sastra.. ?

    Panitia bersusah-susah? tentu itu lebih baik daripada mereka yang tidak mau “bersusah-susah” tapi jago ngerasani orang.. dengan bahasa yang norak pula..
    memalukan..

    hasilnya akan memble..? ini pertanyaan untuk panitia,.. akankah dibiarkan memble..? semoga tidak.
    tetap konsisten ya..!

    salam hangat,….

  • shashi - March 31, 2008 | Permalink

    surprise ada anugerah kayak begini…

    saya cari bukunya benar2 karena ingin beli lalu baca…

    cuma pas begitu baca tidak sebagus yang saya bayangkan..

    terus kalau yang terbaik malah dipilih via SMS…orang Indo belum cukup obyektif untuk menilai secara adil…

  • Hatma Mp - April 1, 2008 | Permalink

    Setiap usaha baru, selalu memberi dua pilihan utama, bukan? : dipuja atau dicacimaki. Bagi aku, sejauh sebuah usaha didasari dengan semangat untuk berbuat baik - walau sekedar usaha untuk mencoba - selayaknya diberik kesempatan untuk realisasinya. Disaat yang sama, setiap kritik, sekeras apa pun, selayknya juga mendapat tempat.Dan kedua hal itu telah difasilitasi oleh Panitia ASPK. Aku sendiri setuju dengan niat dasarnya : agar sastra Indonesia tidak menjadi eklusif. Malah menjadi arena inklusif, dimana setiap insan Indonesia memberikan kontribusinya. Semoga!

  • SYAIFUDDIN GANI - April 6, 2008 | Permalink

    pada sungai tenang kita butuh setikam karang
    menyobek udara

    pada rerimbun hijau belantara hutan
    kita butuh merah sebagai pertanda bunga

    di sinilah
    fikap Faisal Kamandobat
    seumpama belati menyayat
    leher kemapanan

  • Nun - April 20, 2008 | Permalink

    PAN,

    APAKAH TIDAK TERLALU PENTING BAGI PENA KENCANA UNTUK MENGUMUMKAN PERINGKAT POLING SEJAK DARI AWAL? MULAI DARI SEKARANG!

    YANG NAMANYA IDOL-IDOLAN DIMANAPUN DI DUNIA INI PERINGKAT POLING SUDAH DIUMUMKAN LEBIH AWAL ATAS NAMA AKUNTABILITAS PULIK KECUALI TENTU SAJA DI BURMA YANG SIAL.

    SIAPA PERTAMA DI DEPAN, LALU DILALUI OLEH YANG LAIN, DISALIP LAGI OLEH YANG LAIN, TIBA-TIBA PERINGKAT PALING BUNCIT TERDONGKRAK KE ATAS KARENA MENJUAL SAPI DI KAMPUNG UNTUK BELI PULSA, TENTU LAKU YANG LAJAK DAN ASYIK DITONTON.

    PENULIS-PENULIS INDONESIA YANG RELATIF KURANG SEJAHTERA INI (DAN BUKANKAH UNTUK MENSEJAHTERAKAN PENULIS ANTARA LAIN MISI DARI IDOL INI?) SUDAH SEPANTASNYA DIKIPAS-KIPAS HARAPANNYA DENGAN MELIHAT SEJAK DINI ADA DI NOMOR URUT BERAPA POSISI MEREKA?

    UPAYA UNTUK MENUNDA MENGUMUMKAN PERINGKAT DI AKHIR WAKTU PELAKSANAAN SAYA KIRA AKAN MEMBUAT KEGIATAN INI TIDAK AKAN DITERIMA LEBIH BAIK DI MASA-MASA MENDATANG.

    TRIM.

    NUN

  • asih - April 23, 2008 | Permalink

    Aku menghargai keputusanmu, mas Faizal… Slmat brjuang buat sastra!

  • samsudin adlawi - May 1, 2008 | Permalink

    berkali-kali saya bolak-balik buku 100 puisi terbaik 2008. berkali-kali pula saya tidak menemukan karya fenomenal yang layak disebut penyair angkatan 2008 (kalau diizinkan untuk sekadar menyebut). Memang ada penyair baru di dalamnya, tapi (maaf) rasanya karyanya masih idem ditto dengan karya-karya angkatan sebelumnya.
    Setelah membaca berkali-kali, akhirnya saya paham sekali, memang tujuan penerbitan antologi 100 puisi terbaik 2008 bukan untuk menahbiskan penyair angkatan baru, tapi untuk disayembarakan.
    Mudah-mudahan penyair dan karyanya yang menang dalam sayembara, ada yang sebut idol-idolan, ini layak disebut angkatan baru!

  • reni - May 4, 2008 | Permalink

    wah, faisal nih cari popularitas aja. kenapa gak dari dulu2 mundurnya. dah naik cetak dan duit dikirim baru koar-koar dengan argumentasi yang sok-sokan mundur dari anugerah pena kencana. ngaca dulu deh. liat dirimu baik-baik. tukang tipu aja berlagak jadi penyair. emang kok, penipu tu gak bisa jadi penyair yang baik!

  • REZA - May 8, 2008 | Permalink

    wah, kok jadi begini???