Kompetisi yang melibatkan interaksi masyarakat, kini tak hanya dilakukan ajang tarik suara saja, tapi juga merambah ke dunia sastra. Anugerah Sastra Pena Kencana 2008, mungkin akan menjadi ajang kompetisi sastra yang memulai sistem ini.
“Ini merupakan terobosan baru yang melibatkan pembaca untuk memilih pemenang. Biasanya ajang anugerah sastra ditentukan oleh beberapa orang juri saja,” terang Jamal D. Rahman, salah satu juri dan panitia di acara peluncuran buku “100 Puisi Indonesia Terbaik 2008″ dan “20 Cerpen Terbaik Indonesia 2008″, Rabu (05/03).
Duapuluh cerita pendek terbaik dan seratus puisi terbaik yang mengikuti kompetisi ini, pernah terbit di harian nasional (periode 1 November 2006 - 31 November 2007) dan telah dipilih oleh para dewan juri, yaitu Prof. Dr. Sapardi Joko Damono, Prof. Dr. Budi Darma, Prof. Dr. Apsanti Budi Sujatno, Ahmad Tohari, Sitok Srengenge, Joko Pinurbo, dan Jamal D Rahman.
Baik cerpen dan puisi, masing-masing dibukukan dan para pembelinya berhak memilih salah satu judul karya sastra yang dianggap terbaik, dengan mengirim SMS premium (Rp. 2000/sms) ke panitia hingga 15 Agustus 2007.
Hasil pilihan pembaca, rencananya akan diumumkan pada September 2008. Pengirim sms juga berkesempatan memenangkan hadiah masing-masing sebanyak Rp. 25 juta, Rp. 15 juta, dan Rp. 10 juta yang akan diundi oleh dewan juri dan notaris.
Untuk menghindari monopoli SMS, Jamal memastikan bahwa itu tak mungkin terjadi. “Tidak bisa mengirim sms sebanyak-banyaknya, kecuali membeli buku sebanyak-banyaknya,” tegasnya.
Menurut Pemimpin Redaksi Majalah Horison ini, pengirim sms hanya bisa dilakukan setelahmembeli buku, karena dalam buku tersebut ada kode dan ketentuan untuk ber-SMS. Setiap kode pun hanya berlaku untuk sekali SMS, sehingga tak mengirim SMS berkode sama lebih dari satu.
Pemilihan ini, lanjut Jamal, disesuaikan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan karya sastra yang cukup pesat. Sehingga ia pun optimis kalau ajang ini akan disambut baik masyarakat dan dapat digelar setiap tahun.
Ajang sastra yang bisa dibilang cukup komersil ini, ternyata tak di sangkal oleh salah satu jurinya, Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono. Menurutnya bisnis atau jualan di dunia sastra bukan hal yang tabu.
“Ini hal yang lumrah, sastra di jual dan dibisniskan. Karena sastra di mana pun akan menjadi komoditas,” tukasnya. Untuk informasi lebih lengkap, kunjungi situs www.penakencana.com. (Rahmi)
Berita diambil dari halohalo.co.id
Â