Oleh Arif Bagus Prasetyo
Pertama-tama, tulisan ini bukanlah apologi untuk para juri “60 Puisi Indonesia Terbaik 2009” Anugerah Sastra Pena Kencana. Buku ini menghimpun 60 puisi yang diseleksi, oleh sejumlah juri, dari puisi-puisi yang dipublikasikan di sejumlah koran nasional selama setahun ke belakang. Tentu saja ada puisi-puisi lain yang terbit di sejumlah koran lain di negeri kita selama setahun ke belakang. Namun kenapa hanya sekian puisi dari sekian koran saja yang dinilai “terbaik” selama setahun ke belakang dan akhirnya diterbitkan di buku ini, tentu menjadi otoritas dan tanggung-jawab para juri sendiri. Dan saya bukan juri.
Saya hanya membaca sehimpun puisi pilihan juri Anugerah Sastra Pena Kencana tahun ini. Karena sumbernya adalah media massa cetak nasional yang terbit selama setahun ke belakang, maka saya membaca puisi-puisi tersebut sebagai semacam lanskap perpuisian mutakhir Indonesia: sebuah panorama puisi kontemporer yang, mestinya – jika diingat bahwa seni yang sesungguh seni selalu mereaksi masa ketika seni tersebut diciptakan – merefleksikan situasi era kiwari. Kita hidup di sebuah zaman ketika klaim tentang seni “abadi” kian terasa meragukan, terutama karena interupsi deru perubahan yang mengepung kehidupan kita setiap hari, setiap detik. Seniman, termasuk penyair, yang coba melarikan diri dari “kesementaraan hari kini” dan berkeras memburu yang abadi di seberang sana, terancam mengalami kegagalan artistik. Jika sang penyair tidak kreatif betul, karya puisinya terancam jadi membosankan. Mem-bo-san-kan.
Puisi dalam buku ini bersumber dari media massa. Dan media massa, kita tahu, adalah corong “kesementaraan hari kini”. Media massa menyodorkan kebaruan yang sebentar, yang segera dikubur kebaruan lain esok pagi, sebentar nanti. Fitrah media massa adalah anti-abadi. Sementara fitrah puisi, sebagaimana yang masih diyakini banyak penyair sampai sekarang, adalah “mengabadikan sesuatu yang kelak retak” – menyadur ungkapan terkenal dalam sebuah sajak lawas Goenawan Mohamad. Puisi menatap keabadian. Di luar segala pembaruan yang dilakukan para penyair dari masa ke masa, puisi tak pernah memperdengarkan suara di sini dan kini, melainkan suara dari seberang sana, suara awal-mula, suara lain; puisi selamanya mengawali lagi dan terus-menerus kembali (Octavio Paz, The Other Voice). Dari sini terlihat bahwa koran dan puisi berbeda fitrah, beda visi dan misi, bahkan bertolak belakang. Taraf tertinggi dari cerita yang mendasarkan dirinya pada peristiwa, dengan peristiwa-faktual-murni sebagai puncaknya, adalah berita. Sebaliknya, cerita yang memberat ke arah makna, dengan makna-fiksional-murni sebagai puncaknya, berujung pada puisi. Puisi di koran, taburan kata puisi di antara hamburan kata berita, adalah sebuah ironi. Paradoks. Skandal.
Koran menyuarakan yang di sini dan kini; sedangkan puisi dipercaya menyuarakan yang di sana dan selamanya. Koran dihidupi hasrat khalayak ramai, sementara khalayak puisi tak pernah ramai, tak bisa melimpah. Koran melayani selera mayoritas, puisi meladeni selera minoritas. Tiap hari Minggu, puisi terbit di koran-koran bertiras besar, di media yang dibaca oleh massa, tapi belum pernah terdengar ada buku puisi menjadi best seller seperti buku prosa atau buku panduan meraih kesuksesan, dan mencari penerbit komersial yang bersedia membukukan karya puisi tetap saja sulit. Apa artinya ini? Jumlah pembaca puisi tak jua terdongkrak oleh “promosi” puisi di koran tiap hari Minggu. Puisi dan aktivitas menulis puisi mungkin populer, tapi membaca puisi bukan aktivitas populer. Hapuskan lembar puisi di koran, maka kemungkinan besar yang akan ramai-ramai protes hanya kalangan penyair, barangkali plus sebagian kaum elit intelektual lain (kelas menengah, tentu saja) yang merasa berselera budaya adiluhung. Sementara sebagian besar massa pembaca koran, bahkan para kapitalis persuratkabaran yang biasa menghitung nilai iklan per kolom, besar kemungkinan merasa tidak dirugikan, atau malah diuntungkan, jika puisi punah saja dari halaman koran.
“Puisi adalah antidot bagi teknologi dan pasar,” kata Paz. Maka di era kejayaan kapitalisme dewasa ini, ketika informasi bersenyawa dengan teknologi dan pasar, keberadaan puisi di koran adalah sebuah skandal. Puisi ditulis, dimuat di koran – untuk dilewatkan, atau dibaca sekilas dan dilupakan. Dengan wataknya yang cenderung elitis, suka mengekspos diri dalam akrobat bahasa tingkat tinggi, puisi sering memblokir jalur komunikasi di medan publikasi koran yang berwatak populis. Puisi seolah melakukan upacara bunuh-diri setiap kali tampil di koran. Pemuatan puisi di koran menggemakan keterpinggiran puisi di era produksi-konsumsi massal.
Barangkali didorong kesadaran akan nasib puisi di era kontemporer, sejumlah penyair menulis dan menyiarkan semacam “metapuisi”, puisi tentang puisi. Hampir semuanya bernada muram.
Jejak kepiluan memanjang dalam puisi “Panggilan Kata-Kata” Frans Nadjira. Puisi ini dipenuhi diksi dan ungkapan muram: “malam akhir tahun yang berat”, “kristal pucat yang memantulkan wajah-wajah pasi”, “tulang-belulang tersedu”, “setiap malam adalah luka perih di ulu hati”, “kata-kata yang hilang”, “kata-kata mandul berdiri / Sia-sia memaknai malam tandus” dsb. Itulah isyarat buruk tentang penyair, seorang yang “memilih menjadi pengembara yang memikul salib kata-kata di pundaknya”, di sebuah masa yang kian menihilkan puisi.
Penyair sejati “berumah” puisi. Pada 1943, dalam puisi “Rumahku”, Chairil Anwar menyatakan dengan heroik: “Rumahku dari unggun-timbun sajak / Kaca jernih dari luar segala nampak /…/ Rumahku dari unggun-timbun sajak / Di sini aku berbini dan beranak”. Namun sekitar 65 tahun kemudian, Ari Pahala Hutabarat dalam puisi “Membangun Rumah” menulis: “di tubuhmu aku melihat rumah-rumah yang runtuh. jendelanya koyak-patah. pintunya hilang, ubin pecah, cat terkelupas, dan sumur kerontang. /…/ di tubuhmu kulihat rumah-rumah yang mulai runtuh. seperti rumah yang sama di tubuhku. yang telah penuh dengan perdu”.
Warih Wisatsana dalam puisi “Grafiti Penuh Grafiti” menyamakan sajak dengan “Sekelumit kalimat / penahan sayat sakit / pil penenang semalaman / sebelum tiang gantungan”; atau “Keluh kekasih-kekasih / yang sedih berpisah / di senja yang indah”; atau “Pekik orang usiran / ratapan burung malam / isak hantu dalam gelap”; atau “Kadang hanya igauan / kerikil jalanan / yang kedinginan”. Nelangsa betul.
Tak heran, Ook Nugroho dalam puisi “Kepada Sajakku” memaklumkan: “Sajak-sajakku / Kini kau mengerti / Tak ada tempat / Buat kita di dunia / Yang sempit akal ini / Lihat, mereka / Menggiring kita / Terus ke ujung itu / Mencari kesempatan / Menghapus jejak / Kita di bumi”. Puisi tersingkir karena dianggap tidak signifikan di zaman hingar-bingar kekuasaan teknologi dan pasar. Saya kutip diagnosis Paz dalam esai “The Other Voice”:
Dewasa ini, sastra dan seni menghadapi bahaya berbeda: bukan terancam oleh doktrin atau partai politik, melainkan oleh proses ekonomi yang tak punya wajah, tak punya jiwa dan tak punya arah… Sensor pasar tidak bersifat ideologis: pasar tak punya gagasan. Pasar tahu segalanya tentang harga, tapi tak tahu apa-apa tentang nilai.
Di sebuah dunia yang dikendalikan logika pasar… puisi adalah aktivitas yang tak memberi ganjaran apapun. Produknya susah dijual dan nyaris tak berguna…
Tetapi Paz adalah penyair, karena itu ia membela puisi:
Namun menerobos segala rintangan, puisi beredar dan dibaca. Menolak pasar, nyaris tak berharga sama sekali, puisi bergerak dari mulut ke mulut, seperti udara dan air. Nilai dan manfaatnya tak dapat diukur…
Ook juga penyair, karena itu ia pun membela puisi. Dalam puisi “Kepada Sajakku”, selanjutnya ia berkata: “Mereka sungguh / Tak paham, sajakku / Betapa kita / Kau dan aku / Lebih liat dari khianat / Bahkan lebih / Keramat ketimbang / Hari kiamat /…/ Tak ada sajak / Bisa dibunuh /…/ Kita akan terus / Tumbuh dan hidup”. “Puisi adalah energi, waktu dan bakat yang berubah menjadi objek-objek yang berlebihan,” kata Paz. Minus bakat, puisi dalam pandangan Paz jadi tampak seperti cinta. Novelis Inggris, Julian Barnes, dalam bab “Parentesis” di novel Sejarah Dunia dalam 10 ½ Bab menulis: “Mungkin cinta itu penting karena tidak diperlukan”. Mungkinkah puisi signifikan di zaman kita, justru karena zaman kita tidak membutuhkan puisi?
Dalam puisi “Gurindam Pasal yang Ketujuh: Bagi Sajak, Bagi Siapa”, Hasan Aspahani bertanya: “Untuk siapakah sebenarnya sajak kau cipta?” Barangkali menyadari akan nasib puisi di zaman kita, Hasan menjawab lugas: “sia-sia jika kau tak menulisnya untuk sajak saja.” Puisi untuk puisi? Apakah berpuisi demi puisi itu sendiri bukan sejenis solipsisme? Mungkinkah para penyair menyadari bahwa sia-sia belaka mengharapkan dampak atau pahala apapun di luar nilai intrinsik puisi, apapun signifikansi nilai itu, biar pun mereka tetap menyiarkan puisi di koran, medan kecamuk nilai-nilai yang beroperasi di tengah masyarakat luas? Barangkali memang demikian. Saya membaca puisi tentang proses menulis puisi semata dalam “Menatap” TS Pinang. Dalam puisi “Lima Gambar di Langit-Langit Kamar” Nersalya Renata, saya membaca deskripsi lugas sekaligus banal dan sebuah pesan transparan: “aku tak butuh puisi-puisi dan cintamu yang fiksi.” Saya membaca aneka citra warna-warni dalam “Boogie Woogie” Nirwan Dewanto. Saya membaca kecanggihan utak-atik kalimat dalam puisi “Kuharap Kau Menemukan Bulan” Alois A. Nugroho. Saya membaca entah apa dalam puisi-puisi Marhalim Zaini.
Sejumlah pengamat sastra menengarai bahwa tradisi pemuatan cerpen di koran telah melahirkan apa yang disebut “cerpen koran” atau “cerpen hari Minggu”. Konon, cerpenis yang ingin cerpennya dimuat di koran akan berusaha menulis cerita fiksi yang format, pesan pun bahasanya disesuaikan dengan ruang dan watak koran sebagai media informasi instan-aktual-komunikatif. Gejala ini tampaknya tidak berlaku pada puisi. Tidak ada “puisi koran” atau “puisi Hari Minggu”. Para penyair menulis puisi untuk dipublikasikan di koran umum dengan visi dan misi yang sama seperti menulis puisi untuk diterbitkan di jurnal sastra-budaya atau buku puisi. Mereka tidak berupaya menulis puisi yang temanya aktual atau kontekstual, dan bahasanya komunikatif atau populer, misalnya, karena membayangkan audiens khalayak luas pembaca koran. Puisi di koran sama canggihnya dengan puisi di buku puisi mana pun (yang tentu hanya dikonsumsi oleh segelintir peminat serius puisi), sama sulitnya diapresiasi oleh kalangan pembaca awam yang tidak mengakrabi perkembangan sastra puisi – terutama karena penyair yang puisinya dimuat di koran biasanya penyair yang sudah “jadi”, sudah matang dan piawai bermain-main di “puncak bahasa”. Lembar puisi di koran bagaikan etalase curio shop, toko benda-benda eksotik, yang bersikeras menyodorkan keganjilan bahasa sekte rahasia kaum penyair.
Tentu saja ada setumpuk apologi mentereng untuk keganjilan puisi di koran. Bahwa puisi adalah subversi terhadap bahasa “normal” keseharian yang dikontrol oleh kekuasan politik dan ekonomi, kritik atas moralitas publik yang penuh kemunafikan, perlawanan terhadap tatanan yang mapan tapi represif dst. Baiklah. Tapi subversi dan kritisisme dan perlawanan itu baru menyengat jika puisi di koran bisa diakses oleh publik yang lebih luas daripada sekte penyair dan selapis tipis kalangan elit intelektual. Sengat subversi kritis puisi di koran kian terasa tumpul karena koran edisi Minggu sesungguhnya dirancang sebagai bacaan ringan di hari libur. Pada hakikatnya, status puisi di koran edisi Minggu adalah hiburan. Setelah berjalan-jalan di etalase fashion, berjumpa selebritis, menyimak konsultasi seks atau psikologi populer, mencoba resep masakan, ketawa-ketiwi di pojok humor, mungkin ada pembaca yang ingin mampir ke curio shop: lembaran puisi. Dan mungkin keluar dari sana dengan kepala pusing-tujuh-keliling karena gak ngerti.
Cukup mengherankan, para penyair seakan tidak peduli bahwa khalayak umum pembaca koran tidak mungkin menjadi pembaca aktif puisi karena mereka kekurangan informasi yang memadai tentang perkembangan puisi dan bentuk-bentuk puitik mutakhir. Di bidang seni rupa, perkembangan kontemporer juga tak gampang diakses khalayak luas. Namun dewasa ini, nyaris tak ada pameran seni rupa tanpa katalog. Kehadiran karya seni rupa di ruang publik sangat lazim didampingi esai kuratorial atau sekadar tulisan pengantar, yang sedikit-banyak membantu menjembatani apresiasi khalayak terhadap karya. Sedangkan puisi? Pembahasan puisi begitu langka, karena penulis yang mampu dan mau membahas puisi telah menjadi makhluk langka. Publikasi karya seni rupa di pameran mendekatkan seni rupa kepada publik. Publikasi karya puisi di koran tidak mendekatkan puisi kepada publik, malah seperti menjaga jarak.
Tapi yang lebih mengherankan, sikap anti-kompromi penyair terhadap publik pembaca koran ternyata tak banyak diimbangi dengan pemberontakan terhadap tradisi puisi itu sendiri. Sejumlah besar puisi di buku ini berkubang dalam tragika cinta, kepedihan, kesunyian – tema-tema puitik paling tradisional dan universal. Para penyair seakan menutup telinga dari degup “sejarah” yang menghidupi koran sebagai medium publikasi puisi mereka. Nyaris seluruh puisi yang mereka terbitkan di koran tidak bernilai penting bagi siapapun yang tertarik pada histoire des mentalites, karena puisi-puisi itu tidak menyediakan wawasan tentang cara khalayak ramai mengalami berbagai peristiwa besar yang menyelingi kehidupan sehari-hari. Para penyair bersikukuh menghikmati kehidupan personal mereka sendiri, meskipun menyiarkan puisinya di media massa, media-untuk-massa. Subversi? Yah, saya bersyukur jika tidak diserang pusing atau bosan sebelum mencapai larik terakhir puisi yang sedang saya baca di koran. Saya bersorak jika menemukan puisi yang lebih menggusarkan daripada berita perang, lebih cerdas daripada kolom esai opini, lebih menyengat daripada slogan iklan.
Sebagai pembaca yang tidak awam dengan perkembangan puisi Indonesia, saya berharap memperoleh tambahan wawasan dari puisi yang dimuat di koran. Saya percaya pembaca awam pun akan berbahagia jika wawasannya bertambah setelah membaca rubrik puisi. Saya bermimpi, suatu hari kelak akan menikmati di koran kita puisi-puisi semacam Sair kadatangan Sri Maharadja Siam di Betawi karya seorang penulis peranakan Tionghoa-Indonesia, tentang kunjungan resmi pertama Raja Chulalongkorn ke Jawa pada Mei 1871; atau syair karya Abdul Karim Tjiat (1890) tentang perayaan kawin perak Residen Ambon (orang Belanda); atau syair karya Ang I Tong (1890) tentang kunjungan Pangeran Hendrik ke Ambon; atau syair karya Tan Teng Kie (1891) tentang kedatangan Putra Mahkota Rusia di Batavia; atau syair karya Na Tian Piet (1896) tentang wafatnya Sultan Abu Bakar dari Johor; atau syair karya T.B.H. (1905) tentang kedatangan skuadron angkatan laut Tionghoa di Jawa. Saya bayangkan, pada tahun entah, buku Puisi Terbaik Anugerah Sastra Pena Kencana akan berisi puisi semacam Sj’air djalanan kreta api ja’itoe Bataviasche oosterpoorweg dengan personeelnja bij gelengenheid van de opening de lijn Tjikarang-Kedung-gede bezongen oleh Tan Teng Kie atau “Syair tentang Maskapai Kereta Api Timur Batavia dan Personilnya pada Saat Pembukaan Jalur Cikarang-Kedunggede karya Tan Teng Kie” (1890).
***
Arif Bagus Prasetyo, penulis dan kurator. Telah menghasilkan 14 buku, termasuk kumpulan puisi Mahasukka (2000) dan kumpulan telaah sastra Epifenomenon (2005).