
Hasan Al Banna menetap di Medan bersama istrinya, Dewi Haritsyah Pohan, dan seorang putri, Embun Segar Firdaus. Lahir di Padangsidimpuan, 3 Desember 1978, Menyelesaikan SD, MTsN, dan MAN 1 di Padangsidimpuan serta menyelesaikan Program S1 Bahasa dan Sastra Indonesia FBS—Universitas Negeri Medan (Unimed). Kini bekerja di Balai Bahasa Medan. Mulai menulis puisi, cerpen dan esai sejak bergabung dengan Teater LKK Unimed tahun 1999, antara lain menyebar di Mimbar Umum, Analisa, Waspada, Medan Bisnis, Sumut Pos, Harian Global, Riau Pos, Sagang, Suara Pembaruan, Republika, Kompas, Horison, dan Gong.
Belum pernah menetaskan antologi karya secara tunggal. Sejumlah karyanya terangkum dalam antologi bersama penulis lain, semacam 50 Botol Infus (2002), Gapai Rindu (2003), Amuk Gelombang (2005), Ragam Jejak Sunyi Tsunami (2005), Dian Sastro for President! End of Trilogy (2005), Jogja 5,9 Skala Richter (2006), Medan Puisi (2007), Medan Sastra (2007), kemudian dalam antologi 30 Terbaik Lomba Cerpen Tingkat Nasional Festival Kreativitas Pemuda 2004: Dari Zefir sampai Puncak Fujiyama (2004), Rebana (2006), Denting (2006), dan antologi esai peserta Program Penulisan Esai Mejelis Sastrawan Asia Tenggara (MASTERA) di Banyuasin, Sumatera Selatan 2004: Jendela Terbuka (2005).
Aktif (sebagai pelakon maupun sutradara) dalam berbagai pementasan teater bersama Teater LKK Unimed, Teater siklus Ind. Art, Teater Patria, dan Teater Generasi. Beberapa kali mentas teater di Medan, juga pernah di Padang, Pekanbaru, Jakarta, serta Yogyakarta.