Agus Noor, sering menyatakan bahwa menulis baginya ialah cara untuk menyelamatkan diri dari kegilaan. “Menulis prosa ialah dunia ganjil yang membuat saya mampu bertahan di tengah lingkungan dan situasi yang juga ganjil,” katanya. Keganjilan yang bisa terasa dalam banyak prosanya. Oleh Korie Layun Rampan dimasukkan sebagai sastrawan angkatan 2000. Buku-buku kumpulan cerpennya yang sudah terbit antara lain, Memorabilia (Yayasan untuk Indonesia, 1999), Bapak Presiden yang Terhormat (Pustaka Pelajar, 2000), Selingkuh Itu Indah (Galang Press, 2001), Rendezvous: Kisah Cinta yang Tak Setia (Galang Press, 2004) Potongan Cerita di Kartu Pos (Penerbit Buku Kompas, 2006). Dua kumpulan cerpennya yang tengah ia siapkan adalah Sebungkus Nasi dari Tuhan dan Sepasang Mata Penari Telanjang. Bukunya yang lain adalah kumpulan monolog Matinya Toekang Kritik (Lamalera, 2006).

Selain itu cerpen-cerpennya juga terhimpun dalam antologi bersama, seperti Lampor (Cerpen Pilihan Kompas, 1994) dan Jl. “Asmaradana” (Cerpen Pilihan Kompas, 2005), Kitab Cerpen Horison Sastra Indonesia (Majalah Horison dan The Ford Foundation, 2002), Dari Pemburu ke Tapuetik (Majelis Sastra Asia Tenggara dan Pusat Bahasa, 2005), dll.

Tahun 1991 memenangkan juara I penulisan cerpen pada Pekan Seni Mahasiswa Nasional (PEKSIMINAS) I, dan mendapat penghargaan sebagai cerpenis terbaik pada Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) IV tahun 1992. Sementara pada tahun 1999 tiga cerpennya “Keluarga Bahagia”, “Dzikir Sebutir Peluru” dan “Tak Ada Mawar di Jalan Raya” masuk Anugerah Cerpen Indonesia yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta. Sedang cerpen “Pemburu” oleh majalah sastra Horison, dinyatakan sebagai salah satu karya terbaik yang pernah terbit di majalah itu selama kurun waktu 1990-2000. Dan cerpen “Piknik” masuk dalam Anugerah Kebudayaan 2006 Departemen Seni dan Budaya untuk kategori cerpen.

Saat ini tengah menyunting buku antologi “Cerpen-cerpen Terbaik Indonesia”, yang merangkum rentang penerbitan cerpen dari Idrus hingga Seno Gumira Ajidarma.