22 Mar 08

Kala Martabat Sastra Dimuliakan

”SAYA tidak bisa menulis dalam keadaan lapar.”Kalimat itu meluncur dengan intonasi yang kuat dari pengamat sastra yang juga cerpenis asal Semarang, S Prasetyo Utomo.
Muara dari kepedihan Prasetyo itu adalah soal honor. Kadang sebuah puisi atau cerita pendek (cerpen) yang termuat di sebuah surat kabar masih dihargai Rp 250 ribu, paling tinggi Rp 350 ribu. [...]

”SAYA tidak bisa menulis dalam keadaan lapar.”Kalimat itu meluncur dengan intonasi yang kuat dari pengamat sastra yang juga cerpenis asal Semarang, S Prasetyo Utomo.

Muara dari kepedihan Prasetyo itu adalah soal honor. Kadang sebuah puisi atau cerita pendek (cerpen) yang termuat di sebuah surat kabar masih dihargai Rp 250 ribu, paling tinggi Rp 350 ribu. Padahal proses untuk mendapatkan ide itu begitu panjang dan melelahkan. ”Kadang honor yang saya terima, kalau dihitung-hitung sering tombok. Tidak sebanding dalam proses pencarian sebuah ide,” tuturnya.

Penghormatan

Itulah salah satu jeritan hati yang bisa mewakili para sastrawan saat ini. Boleh jadi, inilah yang melatarbelakangi ada Anugerah Sastra Pena Kencana 2008.

Anugerah Sastra Pena Kencana menjembatani jeritan itu dengan sebuah pemberian anugerah yang berhadiah total Rp 50 juta untuk pembaca dan total Rp 100 juta untuk sastrawan pemenang penghargaan itu.

Hal itu terungkap dari bedah buku 100 Puisi Indonesia Terbaik 2008 dan 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008 di Toko Buku Gramedia Jalan Pandanaran, Semarang, Kamis (20/3), yang melibatkan juga penyair Timur Sinar Suprana untuk membaca puisi ”Jineman Uler Kambang” karya Gunawan Maryanto.

”Ini merupakan saat indah untuk memuliakan martabat sastrawan,” ujar Triyanto, direktur program penghargaan itu.

Ia mengakui, terobosan itu mengundang kontroversi. Tapi tidak sedikit yang mendukung langkah itu. Mereka yang menentang menyatakan tak layak sastra dinilai sebagaimana orang memilih juara Indonesian Idol karena memang pembaca diharapkan mengirim SMS untuk memilih karya terbaik. Mereka yang mendukung menyatakan ’’karya-karya terpilih’’ ini sudah selamat terlebih dulu sebagai karya bermutu karena dipilih oleh juri sekelas Prof Dr Sapardi Djoko Damono, Prof Dr Budi Darma, Ahmad Tohari, Jamal D Rahman, Joko Pinurbo, dan Prof Dr Apsanti Djokosujatno.

Merespons kontroversi itu, Hendro Basuki (pengamat ekonomi yang juga Wapemred Suara Merdeka menyatakan, ’’Penggunaan SMS hanyalah metode atau cara untuk melibatkan pembaca dalam penilaian, mengapa harus diributkan?”

Ia juga menyatakan, ”Sudah saatnya sastrawan —para kreator mimpi— ini mendapat penghargaan yang memadai. Kita memang sejak lama tak dididik untuk menghargai mimpi. Di negara-negara maju kini mulai diajarkan filsafat mimpi. Dengan mimpi itulah manusia membayangkan kehidupan selanjutnya yang lebih gemilang.

Di sisi lain, penganugerahan tersebut merupakan sebuah bentuk pelibatan masyarakat dalam menilai sebuah karya Sastra. Caranya, pembaca buku bisa mengirimkan SMS dengan mengetik PENA (spasi) kodebuku (spasi) kode judul dan dikirim ke 3977.

”Setidaknya, pembaca bisa menilai karya puisi dan cerpen yang terbaik. Jujur, karya sastra saat ini masih dikuasai oleh kritikus dan media cetak tanpa melibatkan pembaca. Jadi, para pembaca, segeralah terlibat,” jelas Triyanto. (Dicky Priyanto, Maulana M Fahmi-45)

+ Dari Suara Merdeka, 22 Maret 2008

Hak cipta dan tanggung jawab isi komentar ada pada masing-masing penulis komentar. Pena Kencana berhak tidak menampilkan komentar yang tidak relevan dengan isi website ini.

Satu Komentar

  • PAMBUDI - August 26, 2008 | Permalink

    wah ketinggalan aku…………

    gimana cara gabungnya ya…….?

  • Tinggalkan Pesan

    Email tak akan ditampilkan. Harap isi kolom bertanda *

    *
    *