Hal lain yang perlu saya catat setelah membaca cerpen-cerpen yang terhimpun dalam buku ini adalah munculnya kecenderungan dari apa yang ingin saya sebut sebagai perluasan “bobot kehadiran” teks cerpen. Dulu bobot kehadiran sebuah cerpen lazimnya bertumpu pada alur cerita dan karakterisasi yang kuat dan utuh. Seseorang menulis cerpen karena memang benar-benar memiliki “cerita” yang hendak dibagi dengan orang lain. Tapi kini ternyata sebuah cerpen tidak selalu menyodorkan “cerita” melainkan dapat berupa penggambaran situasi tertentu, deskripsi yang berisi penjajaran peristiwa-peristiwa atau semacam “monolog interior” dan lain-lain. “Bobot kehadiran” sebuah cerpen tidak melulu bertumpu pada “cerita” tetapi dapat meluas menuju hal-hal lain yang mengitari peristiwa atau segala ihwal yang berada di balik “cerita”. Cerpen dapat bermula dari teks lain, pencapuradukan dan peleburan berbagai teks dengan acuan-acuan yang menyebar serta dapat dikaitkan dengan teks-teks lainnya yang berkaitan atau tidak berkaitan dengan teks cerpen.
Gejala perluasan bobot kehadiran semacam itu tampak lebih jelas pada bidang teater (atau seni pertunjukan secara umum) dan seni rupa di Indonesia dua puluh tahun terakhir. Saya menyaksikan beberapa pertunjukan (teater dan tari) yang tidak lagi bertumpu pada manusia sebagai sosok (karakter) utuh, sebagai pusat cerita, melainkan pada rangkaian peristiwa, komposisi ruang dan permainan visual. Di situ tubuh dan gerak tidak menjadi pusat pertunjukan melainkan hanya bagian dari susunan ruang dan bangunan visual yang dibangun di atas panggung. Dalam susunan ruang dan bangunan visual tersebut terdapat berbagai peristiwa acak, terpotong-potong, seperti fragmen-fragmen yang seolah tak memiliki struktur utuh. Dari peristiwa yang satu melompat ke peristiwa lain tanpa urutan yang jelas. Kadang antara peristiwa satu dengan lainnya tak terdapat kaitan sama sekali. Saya seperti berhadapan dengan pencampuradukan segala yang absurd, kontradiktif, paradoksal, hamburan mesin simulacrum, timbunan budaya massa, berbagai kebrutalan dunia impersonal akibat politik, kapitalisme, fundamentalisme agama, anarkhi dan omong kosong sekaligus di dalamnya.
Semua itu seolah-olah hendak menunjukkan bahwa pada saat ini kian sulit menyusun manusia dalam sosoknya yang utuh. Modernitas yang telah menemukan manusia sebagai subjek yang utuh dan otonom ternyata justru kemudian menghancurkan si subjek itu sendiri. Kini manusia hanya dapat disusun dari serpihan-serpihan sejarah, sebagai fragmen-fragmen. Dan manusia yang fragmentatif itu kini hidup dalam dunia yang terpecah-pecah pula. Maka sungguh tak mengherankan jika sebagian seniman teater dan tari kemudian menyusun pertunjukan sebagai potongan-potongan ruang dan imaji-imaji visual karena memang demikianlah kondisi manusia dan dunia yang mereka saksikan saat ini.
Keberadaan dan kondisi manusia kadang tak dapat dilihat melalui satu sudut pandang tunggal tapi harus dilihat dalam kaitannya dengan keberadaan dan sudut pandang orang lain yang berada di sekelilingnya. “Subjektivitas” dapat dilihat melalui hubungannya dengan subjek-subjek lain, seperti orang yang berhadapan dengan cermin (orang lain) untuk melihat dirinya sendiri sekaligus melihat dan memahami keberadaan orang lain yang terpantul dari cermin tersebut. “Subjektivitas” adalah suatu proses saling melihat melalui cermin, suatu aktivitas dialog tanpa akhir.
Salah satu contoh karya yang melakukan perluasan “bobot kehadiran” dalam seni pertunjukan adalah pementasan tari yang berjudul “Pichet and Myself”, karya kolaborasi antara koreograger-penari Prancis Jerome Bel dengan penari Thailand Pichet Klunchun yang dipentaskan dalam acara Indonesian Dance Festival 2008 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Karya ini memiliki latar belakang yang cukup panjang. Pada September 2004 Jerome Bel diundang ke Bangkok oleh kurator seni pertunjukan Singapura Tang Fu Kuen untuk membuat suatu “proyek”. Jerome berencana melakukan kerjasama – dalam istilah kerennya, kolaborasi – dengan penari tradisional Thailand. Tapi saat berada di Bangkok ia mendapati beberapa kenyataan berupa waktu yang sempit, kota yang hiruk-pikuk semrawut oleh kemacetan sehingga mustahil menyusun program dengan latihan panjang melalui perencanaan yang komprehensif dan matang.
Tang Fu Kuen kemudian mempertemukan Jerome dengan seorang penari tradisional Thailand yang mumpuni dan memiliki kepekaan terhadap semangat tari kontemporer, yakni Pichet Klunchun. Jerome dan Pichet sebelumnya tak pernah saling kenal. Pichet belum tahu karya-karya Jerome, begitu juga sebaliknya. Dan saat bertemu pun mereka tidak tahu apa yang akan dikerjakan dan apa hasil dari kerjasama mereka nanti. Jerome hanya berbekal beberapa pertanyaan yang diajukan kepada Pichet. Dari partanyaan-pertanyaan itu mereka kemudian melakukan perbincangan panjang yang kian lama kian intens.
Perbincangan itulah yang kemudian mereka bawa ke atas panggung. Mereka mengobrol dalam poisisi berhadap-hadapan untuk melakukan apa yang disebut oleh Jerome “dokumentasi koreografik dalam situasi paling nyata”. Perbincangan itu mula-mula mirip “interogasi” etnografis yang dilakukan oleh seorang pengamat Barat (Jerome Bel) terhadap dunia Timur. “Interogasi” semacam itu mengandaikan posisi yang hirarkis, si pengamat berada dalam posisi yang aktif dan yang diamati sebagai objek. Tapi perlahan-lahan kemudian justru terjadi pembalikan posisi, antara pengamat dan yang diamati saling menginterogasi. Dan ujungnya, mereka saling menginterogasi diri masing-masing. Mereka saling menelanjangi diri, mementahkan mitos-mitos dan stereotype dalam kebudayaan, mencairkan berbagai batas representasi atas realitas yang dilakukan oleh seni sekaligus ke-relatifan kehadiran mereka sebagai pekerja seni yang terlibat secara langsung dalam praksis seni tersebut.
Dalam perbincangan itu sesekali Pichet memperagakan potongan-potongan gerak dalam tari tradisional Thailand beserta konteks historis yang mendasarinya. Begitu juga sebaliknya, Jerome memperagakan beberapa potongan gerak dari karya-karyanya beserta elaborasi filosofis secukupnya. Jerome juga berbicara mengenai beberapa masalah mendasar yang berkaitan dengan persoalan individualitas dalam pengalaman masyarakat “Barat” yang harus berhadapan dengan risiko laten akibat goyahnya kepercayaan terhadap manusia sebagai subjek otonom akibat keretakan modernitas yang bersusah payah mengatasi berbagai kontradiksi dan antagonisme dalam upaya penemuan dunia yang memusat pada individualitas itu sendiri, serta posisi karya-karya tarinya dalam menghadapi gejala tersebut.
Hal itu berbeda dengan pengalaman dunia “Timur” dan negara-negara berkembang yang menerima modernitas sebagai entitas yang hadir tidak secara utuh dan selesai melainkan suatu proses yang seolah-olah tanpa desain dan saling berkelindan dengan berbagai kekuatan khazanah tradisi. Gerak laju proses tersebut tidak berlangsung secara linier melainkan cenderung simultan; kadang saling menyerap, berjalan sejajar, saling bersitegang atau saling tolak, di sana sini menemukan titik ikat, satu saat surut ke belakang pada saat lain melompat ke depan, lalu mencair dan bergerak secara acak guna menemukan ikatan baru untuk sementara waktu, kadang stabil dan tampak utuh kadang mengambang dan menguap tanpa bekas. Suatu proses yang mengelak dari prospek tunggal.
Di situ modernitas dan khazanah tradisi kadang tampak dalam potongan-potongan, fragmen-fragmen. Terkadang orang tergoda untuk merengkuh seluruh dimensi modernitas dalam wujudnya yang paling ambisius, tapi seperti yang pernah dikatakan penyair Octavio Paz, akhirnya yang tergenggam hanya seberkas suku kata. Faktanya, baik di “Barat” maupun di “Timur”, seni lebih suka memperlihatkan dimensi-dimensi modernitas melalui “pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab”, ketimbang sesuatu yang telah jadi dan final. Sekali waktu finalitas memang dianggap sebagai konsep yang menghantui banyak seniman dan pemikir besar. Sebagian di antara mereka bahkan mencoba membangun desain tentang manusia dan dunia secara menyeluruh dan utuh kendati pada akhirnya gagal.
Berbagai paradoks dan antagonisme yang nyata-nyata terjadi dalam sejarah (seperti perang dunia kedua, pembersihan etnis, kerusakan ekologis, berbagai patologi sosial, paranoia akibat dislokasi dan disorientasi akut yang disebabkan oleh dunia mesin) cenderung diingkari jika tidak cocok dengan proses pembuktian kebenaran desain menyeluruh tersebut. Dan kini setelah berbagai ilusi mengenai desain menyeluruh dan final tersebut runtuh maka yang tersisa adalah berbagai pertanyaan yang muncul dari lorong gelap modernitas. Seniman “Barat” kemudian kian suka berbicara perihal modernitas dari sisi perjalanan jatuh bangun proses penemuan makna individualitas dan posisi subjek otonom di tengah gempuran daya-daya impersonal yang kadang berada di luar kendali si subjek itu sendiri. Jerome Bel mengatakan bahwa salah satu pertanyaan yang dapat diajukan oleh seni tari kotemporer adalah “bagaimana kita dapat kembali menyusun makna personalitas”.
Di pihak lain Pichet Klunchun seolah berada dalam posisi yang berbeda dengan pengalaman Jerome sebagai manusia “Barat”. Sebagai manusia “Timur” dengan tubuhnya Pichet dibayangkan dapat merengkuh sesuatu dari modernitas tapi pada saat yang sama tak dapat menyangkal bahwa tubuh tersebut tersusun dari darah dan daging khazanah tradisi yang juga tak lagi tampil secara utuh dan menyeluruh. Penemuan individualitas barangkali memang bukan tema utama dalam khazanah tradisi tapi tema tersebut telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari situasi sejarah tempat si Pichet berpijak. Hal itu menuntut pendefinian terus menerus terhadap posisi subjek di atas pijakan yang juga tak pernah stabil: suatu proses yang nyaris tak mungkin dirangkum dalam rumusan tunggal dan pasti. Juga tak ada yang permanen dalam proses negosiasi tanpa akhir itu.
Dalam perbincangan mereka di atas panggung itu terungkap banyak hal yang berkaitan dengan perbedaan paradigma antara dunia Barat dan dunia Timur dalam memahami diri. Tentu, mereka tidak sedang melakukan diskusi filsafat dengan bahasa yang berat dan membuat kening berkerut melainkan berbincang santai dengan bahasa yang cair didukung gerak tubuh dan ekspresi wajah yang hidup. Kadang gerak tubuh tampak lebih kaya untuk mengungkapkan hal-hal yang tak terjangkau oleh bahasa verbal yang mereka ucapkan. Mereka tidak sedang menyusun konsep tentang tari kontemporer dan kemudian menerjemahkannya dalam gerak melainkan sedang melakukan dialog guna saling mengenali daya-daya personal diri mereka dengan cara melihat orang lain. Mereka tidak sedang menyusun koreografi tapi benar-benar sedang berbincang vis a vis.
Koreografi adalah kegiatan omong-omong.
Barangkali sebagian orang berpikir bahwa omong-omong itu merupakan pendahuluan untuk suatu dialog gerak dalam cakupan koreografi yang lebih luas dan koheren. Tapi ternyata mereka tidak menari bersama dalam suatu karya koreografi yang utuh dan hanya menuntaskan omong-omong sebagai omong-omong saja. Jikalau pun mereka menari bersama itu hanya bagian dari penjelasan lebih rinci dari omong-omong itu. Mereka berhenti pada saat harus berhenti, lalu surut ke belakang panggung, kembali pada diri mereka masing-masing, dan pertunjukan pun usai.
Itulah momen pertemuan dengan orang lain yang dapat terjadi pada siapa saja dalam kehidupan sehari-hari. Di situ orang tak perlu menetapkan prospek tertentu dengan tujuan akhir yang pasti. Dalam suatu peristiwa pertemuan masing-masing pihak tidak harus terbelenggu oleh hasrat untuk mendapatkan “solusi akhir” atau apapun namanya. Kadang cukuplah menikmati jalannya perbincangan yang dapat membuka blokade daya-daya impersonal untuk menyingkap daya-daya personal yang ada pada diri masing-masing peserta dialog. Artinya, proses dialog kadang lebih mengasyikkan ketimbang hasilnya.
Itulah salah satu contoh gejala perluasan “bobot kehadiran” dalam karya seni. Dan jika menengok perkembangan di bidang seni rupa, kita akan menjumpai lebih banyak gejala perluasan “bobot kehadiran” itu dalam bentuk yang bermacam-macam pula. Dalam bidang seni rupa gejala semacam itu biasanya didorong oleh ketidak puasan – bahkan ketidak percayaan – kaum seniman terhadap seni rupa konvensional yang meletakkan “bobot kehadiran” karya pada dimensi yang paling mendasar dan tercakup pada media dwimatra (lukisan di atas kanvas dan kertas dengan cat minyak atau akrilik), dan trimatra (patung dengan bahan kayu, batu, logam dan resin) beserta berbagai tingkat perluasan kemungkinan estetik yang telah disepakati secara spesifik.
Dalam seni rupa konvensional “bobot kehadiran” seni rupa cenderung bertumpu pada formalisasi media yang kemudian dibakukan melalui serangkaian kreasi individual yang unik sebagai hasil dari sentuhan jenius sang seniman dalam prosedur yang baku pula. Ini yang kemudian disebut sebagai “seni murni”. Tapi semenjak munculnya gerakan Dadaisme di Eropa dan Amerika, bobot kehadiran semacam itu mulai bergeser ke wilayah kemungkinan yang lebih cair; bahwa segala sesuatu adalah media, dan media adalah segala sesuatu. Media dan bentuk yang tercakup di dalamnya tidak melulu muncul dari “material resmi” yang sudah lazim melainkan pada segala benda yang dapat dijumpai di mana saja: kloset, perkakas kerja, barang-barang bekas, hingga sampah sekali pun. Seni tersebut lazim disebut sebagai seni instalasi.
Kemudian kita juga menyaksikan gejala meluasnya seni rupa aksi seperti performance art, happening art, demo di jalanan, seni publik, seni lingkungan, seni politik hingga tindakan-tindakan estetis yang berbau mistik dan seterusnya dan seterusnya. Bahkan ada seniman yang menciptakan bobot kehadiran karya-karyanya melalui apa yang disebut sebagai “kerja”: bahwa seni rupa bukan sekadar wahana untuk menciptakan monumen-monumen estetik paripurna melainkan terjemahan langsung dari kegiatan si seniman di tengah masyarakatnya. Pada saat yang sama juga muncul seni yang merayakan fleksibilitas spasio-temporal yang fantastik bersamaan dengan kian terbukanya media cyber dunia digital dan kemajuan teknologi audio-visual yang kian menakjubkan itu.
Kelenturan dan perluasan “bobot kehadiran” tersebut juga diiringi meluasnya “seni kolaborasi”, yaitu seni yang dibuat oleh lebih dari satu seniman, baik seniman yang berasal dari tempat berbeda (yang sebelumnya tak pernah saling kenal), maupun beberapa seniman dengan latar belakang disiplin yang berbeda seperti seniman seni rupa dengan seniman teater, komposer, koreografer maupun seniman audio-visual. Seni yang semula dianggap sebagai hasil ciptaan individual kini dapat diciptakan bersama-sama oleh lebih dari satu individu. Bahkan ada seni yang diciptakan oleh beberapa orang seniman bersama-sama dengan publik, entah itu publik dalam arti penonton seni maupun dengan masyarakat umum. Seni jenis ini sering diciptakan dalam suatu komunitas atau kelompok masyarakat tertentu dan digelar di tempat-tempat umum, di jalan raya, di sungai, persawahan dan sebagainya, yang kemudian disebut sebagai seni publik. Dalam seni semacam ini yang dipentingkan adalah peristiwa kerja bersama tersebut dan bukannya pada hasil yang diciptakan. Seni bukan suatu “benda” tapi sebuah proses.
Tujuan seni semacam ini bukan untuk menciptakan atau menyodorkan sesuatu yang sudah jadi, utuh dan final. Ia tak hendak membuat monumen-monumen tapi hendak mengajak pihak-pihak yang terlibat untuk menikmati proses kerja bersama tersebut. Jadi, proses dianggap lebih mengasyikkan ketimbang hasil akhirnya. Dan dalam proses tersebut pihak-pihak yang terlibat tak harus memperoleh sesuatu yang jelas dan gamblang. Seni rupa dibayangkan sebagai rangkuman dari segala yang tak beraturan dan kadang tak terurai namun dapat disentuh sebagai kesatuan mandiri maupun dalam hubungannya dengan bentuk-bentuk ungkapan serupa di sekitarnya yang juga berkaitan dengan berbagai realitas yang paradoksal, antagonistik, terpecah-pecah, kadang bergerak menuju titik tertentu kadang menyebar dan saling bertentangan. Dan karena mustahil merangkum seluruh dimensi realitas semacam itu dalam representasi tunggal maka setiap perwujudan seni akan berada dalam pusaran dimensi-dimensi yang bertolak belakang atau saling sejajar dalam garis tegangan pada momen dan sekuen tertentu dengan pola yang tak dapat ditentukan. Ia menjadi sejenis ungkapan tak beraturan dari daya-daya yang dikenali oleh indera, tubuh dan ruang. Seni adalah pantulan segala yang tak terurai tapi memiliki wujud yang dapat disentuh oleh mata dan pikiran.
***
Dari deskripsi perihal gejala yang berlangsung dalam bidang seni pertunjukan dan seni rupa tersebut, saya hendak mengatakan bahwa dalam proses menikmati karya seni – dalam hal ini proses membaca teks cerpen - kadang kita tak perlu mengharapkan suatu “cerita” atau berbagai peristiwa di sekitar cerita beserta karakterisasi tokoh-tokohnya yang gamblang utuh bulat, melainkan dapat dengan cara lain, yakni dengan menikmati kalimat-kalimatnya, imajeri-imajeri yang dibuka oleh teks atau menyentuh bentuk-bentuk deskripsinya. Beberapa cerpen mengajak saya untuk menikmati teks sebagaimana saya berhadapan dengan beberapa gejala yang berlangsung dalam seni pertunjukan dan seni rupa di mana “proses” perjumpaan dengan elemen-elemen yang membentuk karya tersebut kadang lebih penting dan lebih mengasyikkan ketimbang mencari atau menemukan suatu “hasil”.
Menikmati pencampuradukan yang mempesona dari berbagai kemungkinan representasi (seperti pada cerpen “Pengantar Singkat untuk Rencana Pembunuhan Sultan Nurruddin” karya Azhari), penggambaran sebuah situasi ruang yang sangat rinci (pada cerpen “Ruang Bunuh Diri” karya Zaim Rofiqi), kejutan-kejutan dari bentuk penuturan yang tengil (pada cerpen “Tuhan, Pawang Hujan, dan Pertarungan yang Remis” karya AS Laksana, kalimat-kalimat panjang dengan sisipan metafora di sana-sini (pada cerpen “Sebuah Jazirah di Utara” karya Linda Christanty), dan lain-lain, kadang lebih mengasyikkan ketimbang mencari alur cerita dan karakterisasi tokoh-tokohnya. Sebagaimana telah dikatakan, dalam beberapa cerpen saya tak disodori “cerita” yang gamblang dan utuh-bulat, melainkan berbagai lekuk-liku penceritaan yang bermacam-macam.
Dan dalam “proses” menelusuri lekuk-liku itu kadang saya terseret arus tergulung ke sana sini, kadang kelelahan, tapi di saat lain justru menemukan semacam gairah dan keasyikan tersendiri untuk memulai semuanya dari awal, membaca setiap cerpen secara berulang-ulang. Menikmati cerpen dengan cara semacam itu bagi saya terkadang dapat membangkitkan kembali sejumput harapan; bahwa masih ada sesuatu yang berarti selain luapan rasa mual dan jijik akibat hamburan kata-kata kosong di spanduk-spanduk, poster, selebaran, centang perenang bendera partai dan iklan politik yang mengepung dari segala jurusan berebut ruang dengan berita bajir, iklan SMS “ketik Reg…”, perang kotor di beberapa belahan dunia, PHK, hamburan infotainment, siaran sepak bola, berita pembunuhan dengan mulitasi, perampokan, orang-orang miskin yang antre BBM, kapal tenggelam dan sebagainya dan sebagainya.
***
WICAKSONO ADI, menempuh pendidikan di Fakultas Teknik Sipil Universitan Islam Indonesia dan Jurusan Seni Lukis, Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta. Kini menetap di Jakarta dan menulis berbagai ulasan yang diterbitkan di beberapa media massa cetak, berupa ulasan sastra, seni rupa, seni pertunjukan dan film.