Cerpen berikutnya yang saya baca adalah cerpen “Kamar Bunuh Diri”, karya Zaim Rofiqi. Pada bagian akhir cerpen ini terdapat catatan sebagai berikut:
Cerita pendek ini adalah variasi atas puisi Wislawa Szymborska, “The Suicide’s Room”, dalam Wislawa Szymborska, View with a Grain of Sand: Selected Poems, Faber and Faber, 1996, hlm.122-123.
Baiklah saya kutipkan bagian pembukaan cerpen tersebut.
I.Ruang Kamar
Kau tentu mengira kamar itu kecil. Terlalu sempit sehingga membuat pikiran sumpek, udara mampet, angan-angan mandek?
Salah. Kamar itu cukup luas, sekitar 3 X 4 meter, cukup untuk menampung lebih dari dua orang. Dindingnya terbuat dari batu bata dan kayu, dengan cat putih yang sudah mulai mengelupas dan berbercak. Langit-langitnya juga tidak terlalu rendah, cukup tinggi untuk menggantungkan angan-angan. Lantainya yang bersih terbuat dari marmer, cukup nyaman dan kokoh untuk dipijak. Dua buah jendela, dengan ukuran yang hampir sama, masing-masing dengan horden berwarna biru, menghampar di dinding, satu di sebelah kanan pintu masuk, satu lagi di sebelah kirinya. Di atas salah satu jendela itu, terpajang dua buah ukiran nama yang terbuat dari kayu: ukiran nama Sang Ketua dan Wakilnya.
Kemudian saya kutipkan bagian awal puisi Wislawa yang dijadikan acuannya.
The Suicide’s Room
I’ll bet you think the room was empty.
Wrong. There were three chairs with sturdy backs.
A lamp, good for fighting the dark.
A desk, and on the desk a wallet, some newspapers.
A carefree Buddha and a worried Christ.
Seven lucky elephants, a notebook in a drawer.
You think our addresses weren’t in it?No books, no picture, no records, you guess?
Wrong. A comforting trumpet poised in black hands.
Sebagaimana disebutkan dalam catatan, di situ tampak jelas bahwa cerpen ini merupakan variasi dari sebuah puisi. Teks puisi tidak hanya berposisi sebagai catatan kaki yang diperlukan sebagai acuan yang dapat memperkaya teks cerpen melainkan sebagai bahan awal yang kemudian ditulis ulang atau dikembangkan menjadi teks yang sama sekali baru. Sebagaimana puisi yang dijadikan bahan dasarmya, cerpen ini memang menggambarkan bentuk dan situasi dari sebuah ruang kamar tempat seseorang telah melakukan bunuh diri. Penggambaran ruang itu dilakukan dengan sangat rinci bagian per bagian, mirip lukisan hiperrealistik.
Peristiwa bunuh diri itu sendiri tidak ditampilkan di sini. Tapi penggambaran ruang dan situasi yang melingkupinya dengan sangat rinci itu perlahan-lahan menggantikan segala pertanyaan-pertanyaan yang menuntut jawaban logis perihal suatu peristiwa bunuh diri. Tapi si tokoh yang bunuh diri ternyata tidak meninggalkan jejak-jejak yang mengarah pada alasan-alasan yang masuk akal dan meyakinkan kenapa ia melakukan hal itu. Di bagian akhir cerpen ditegaskan bahwa, “Memang, kau – dan aku juga – tentu merasa semuanya mungkin akan lebih mudah jika suatu dalih, suatu sebab, suatu alasan yang dapat ditemukan, sebuah alasan untuk menjawab pertanyaan mengapa dan kenapa, sebelum dia diam-diam pergi meninggalkan kehidupan, tanpa mengucapkan “selamat tinggal”.
Ihwal ketiadaan alasan untuk menjawab pertanyaan “mengapa” dan “kenapa” itu tidak dilakukan dengan memberi penjelasan mengenai karakter beserta berbagai peristiwa yang melibatkan si tokoh cerita atau dengan penyusunan dialog yang mendukung penjelasan tersebut, melainkan justru diganti dengan deskripsi rinci dari bentuk dan situasi ruang tempat si tokoh telah melakukan bunuh diri. Ruang itu merupakan jejak dari terjadinya suatu peristiwa. Dan dari jejak itulah cerpen ini bertolak. Aroma maut disusun ulang melalui rekonstruksi benda-benda dan suasana yang melingkupinya hingga ketika membacanya seolah-olah saya dapat menghirup kembali sisa maut yang menempel pada seluruh ruang tempat terjadinya peristiwa tersebut. Dan sebagai sebuah variasi dari suatu puisi, cerpen ini cukup berhasil “menampilkan” jejak maut dan bukannya “menyatakan”, menceritakan dan menjelaskan bagaimana maut itu terjadi.
“Penampilan” situasi atau suasana dari situasi tertentu (dalam bentuk yang lain) saya jumpai juga pada cerpen “Sonata” karya Lan Fang. Pada beberapa bagian terdapat kutipan dari teks lain yang diberi catatan pada akhir cerpen. (Kutipan terbanyak berasal dari puisi-puisi Sapardi Djoko Damono, yakni Sonet 1, Sonet 3 dan Sonet 4). Jika pada cerpen “Kamar Bunuh Diri”, puisi Wislawa merupakan bahan dasar yang kemudian dikembangkan dan ditulis ulang menjadi cerita pendek, pada cerpen “Sonata”, teks puisi hanya dikutip pada bagian-bagian tertentu dan seandainya kutipan tersebut dibuang juga tidak akan banyak berpengaruh pada bangunan keseluruhan cerpen. Cara pengutipan semacam itu perupakan hal yang lazim dalam teks apa pun. Saya menjumpai beberapa cerpen (dengan cara pengutipan serupa) yang terbit di media massa cetak akhir-akhir ini.
***
Ada cerpen yang membuat saya ingin membacanya berulang-ulang, yakni “Tuhan, Pawang Hujan, dan Pertarungan yang Remis”, karya AS Laksana. Cerpen ini tidak memberikan saya penggambaran suasana atau situasi tertentu melalui deskripsi yang rinci dari segala ihwal yang membentuk struktur cerita atau pencampuradukan yang memukau dari berbagai konteks yang membentuk struktur teks, melainkan pada cara bercerita yang sangat unik: penggambaran karakter cerita dan perkembangan alur yang diungkapkan secara sarkastik, konyol dan di sana-sini agak ugal-ugalan. Saya juga merasakan nada humor yang kuat, bahkan sejak paragraf awal yang berbunyi sebagai berikut:
“Fakta pertama, gadis itu cantik dan itu membuat Alit kikuk dan itu membuatnya tiba-tiba menyadari pentingnya bakat. Fakta berikutnya, para penjual motivasi selalu mengatakan kepadamu bahwa untuk menjadi ini itu kau tidak memerlukan bakat. Alit pernah meyakininya ketika ia memutuskan belajar sulap, tetapi belakangan ia tidak percaya pada bujukan itu. Ia kembali yakin pada bakat. “Jika bakatmu adalah pawang kera”, katanya, “kau pasti akan lebih beruntung menjadi pawang kera ketimbang memaksakan diri menjadi penulis atau menjadi tukang ketik. Dan jika kau mengembangkan diri menurut bakatmu, suatu saat kau bahkan bisa meningkatkan diri menjadi pawang gorila”.
Jelas perkaranya adalah Alit yang sedang jatuh cinta pada seorang gadis berusia 13. dan lantaran jatuh cinta ia menjadi sangat kikuk. “Alit berusia 24 tahun dan sebenarnya sudah beberapa kali kikuk”. Ia mengutuki dirinya karena sikapnya itu. Padahal ia tahu bahwa dirinya seorang tukang sulap. Dan seorang tukang sulap tidak selayaknya kikuk. Maka, ia memutuskan bahwa dirinya tak punya bakat dalam bidang sulap. Ia memutuskan bahwa dirinya lebih berbakat menjadi pawang hujan. “Seminggu sesudah kejadian itu ia berhenti menyulap dan pada hari ke delapan ia merasa terdorong menjadi pawang hujan”.
Maka Alit pun belajar pada pawang hujan mumpuni. Ia berpikir jika nanti sudah berhasil menjadi pawang hujan hebat, ia pasti dapat menundukkan awan. “Atraksi mengendalikan awan-awan di langit akan menjadi pertunjukan luar ruang yang ampuh… Dan mestinya tak sulit-sulit amat bagi pesulap ampuh untuk memikat gadis cantik berpenampilan kusam”. Tapi gurunya mencium akal bulus itu, dan memperingatkan Alit bahwa seorang pawang hujan pantang “mempermainkan awan, apalagi untuk tujuan-tujuan atraksi”. Alit menurut. Dan setelah menjalani “bakatnya” yang baru itu selama beberapa tahun akhirnya ia menjadi pawang hujan yang cukup sukses.
Tapi pada suatu saat ia merasa sangat kecewa dengan bakatnya sebagai pawang hujan. “Untuk pertama kali selama menjalani kepawangan, ia merasa Tuhan telah memberi bakat yang keliru, atau bakat yang tak ada gunanya. Dengan bakat cemerlangnya menghalau awan-awan, ia toh tak mampu memikat gadis yang membuatnya kikuk sejak pandangan pertama”. Dan gadis itu kemudian justru menikah dengan seorang “lelaki yang sama sekali tidak pantas untuk dibilang jodohnya”. Celakanya, Alit diminta oleh sang gadis untuk menjadi pawang hujan pada acara pernikahan tersebut. “Sungguh Tuhan telah memberinya bakat yang tidak berguna, bakat yang tak mampu menyelamatkan gadis itu dari pesona si bandot”. Lebih celaka lagi, si gadis justru kemudian menjadi seorang pesulap, dan dalam banyak pertunjukan sulapnya ia selalu meminta Alit untuk menjadi pawang hujannya.
Oleh karena itu, sekali lagi Alit memutuskan bahwa Tuhan telah membuat kekeliruan besar. Pertama, perihal bakat yang salah, dan kedua menjodohkan si gadis dengan si bandot. “Maka, tak ada jalan lain, Tuhan dan keputusan-Nya yang keliru harus dilawan…Tuhan telah menyakitinya dalam urusan perjodohan, maka Alit memutuskan bertarung dengan Tuhan di wilayah yang lain yang Dia merasa paling berkuasa – soal kematian. Ia bersumpah tak akan pernah membiarkan kematiannya menjadi urusan Tuhan; ia hanya mau mati karena ia sendiri yang menghendaki kematiannya”.
Alit pun memutuskan untuk bertarung dengan Tuhan. Ia mencoba bunuh diri, tapi ternyata gagal. Maka, ia mengambil kesimpulan bahwa “…Tuhan telah bertindak curang dengan cara mengirimkan malaikat berupa pengemis untuk menggagalkan upayanya. Pertarungan berakhir remis.”
Begitulah kisah perihal si Alit (sebagai lelaki tukang sulap dan pawang hujan) yang dengan gampang mengambil keputusan demi keputusan terhadap jalan hidupnya dengan enteng tapi sesungguhnya menyimpan kepedihan yang wajar. Tapi lantaran kepedihan dan kesengsaraan itu diceritakan dengan cara yang tengil, dengan kalimat-kalimat yang mengandung sarkasme tajam di sana sini, sesuatu yang tragis tersebut berubah menjadi kisah yang lucu. Setiap kali membaca ulang cerpen ini saya selalu tertawa. Secara tidak sadar saya telah dibawa menuju titik ekstrem dari “tragedi” yang meluncur menuju sebuah “komedi”.
Cerpen ini membuka mata saya: jangan-jangan memang benar ungkapan yang mengatakan bahwa puncak dari “tragedi” adalah “komedi”. Dan siapa pun tahu bahwa menulis dengan humor atau menyusun sebuah kisah “komedi” bukan pekerjaan gampang. Bagi saya, AS Laksana adalah seorang penulis dengan “bakat” tukang sulap yang mampu mengubah hal-hal biasa (seperti kisah perihal si Alit itu) menjadi “komedi”. Dulu saya menemukan ke-tengil-an yang lebih dahsyat pada sebagian besar karya Budi Darma. Dalam kadar yang berbeda, saya juga menemukan hal serupa pada karya-karya Gerson Poyk dan Jajak MD serta karya-karya Putu Wijaya. Jika pada karya-karya Putu Wijaya “humor” dan “komedi” biasanya tercipta melalui alur yang berkembang berdasarkan suatu peristiwa yang kemudian melahirkan peristiwa runtutan secara tak terduga, pada karya-karya Budi Darma dan AS Laksana aroma tengil dan humor itu tidak hanya muncul dari alur beserta runtutan peristiwa yang melingkupinya melainkan juga pada sekujur tubuh kisah itu sendiri.
Saya juga mencium aroma humor pada cerpen “Usaha Menjadi Sakti”, karya Gunawan Maryanto. Cerpen tersebut dibuka dengan kalimat sebagai berikut: “Setelah gagal memperoleh kesaktian dengan jalan bertapa di kebun belakang rumah, aku jadi tak banyak bicara. Hanya Budi yang tahu kesedihanku. Dia pula satu-satunya orang yang tahu bahwa aku pernah bertapa di bawah pohon melinjo yang kelak tumbang berbarengan dengan meninggalnya ibuku. Tak perlu kuceritakan bagaimana jalannya samadiku yang pertama dan terakhir itu. Yang terang, itu tak sehening Begawan Ciptoning di cerita wayang. Tak ada setan atau bidadari yang menggoda dan duduk di pahaku. Tak ada Narada atau Jibril yang datang membawa wahyu. Cuma sejumlah semut rangrang, menggigitku berulang-ulang”.
“Seminggu setelah kegagalan itu, Budi datang membawa kabar bahwa Antok, anak pawang ular yang tinggal di ujung timur kampung, telah mengangkat dirinya menjadi guru”. Maka, si aku pun memutuskan untuk berguru kepada si Antok, agar menjadi manusia sakti. Tentu, si aku harus membayar imbalan dengan jumlah tertentu agar mendapat kesaktian dari gurunya itu. Dan setelah melalui prosedur yang yang ditentukan oleh sang guru, si aku (dan Budi) menjalani proses penggemblengan. Ilmu-ilmu kesaktian yang akan diberikan oleh sang guru tergantung pada paket (berdasarkan jumlah bayaran) yang disediakan oleh sang murid. Ada ilmu Brajamusti, Lembu Sekilan, Kethek Putih, Welut Putih dan Topeng Waja. (Setiap ilmu memiliki harga yang berbeda-beda).
Sejak membaca bagian awal cerpen ini saya yakin bahwa saya sedang berhadapan dengan cerita yang lucu. Dan memang benar, saya kemudian bertemu dengan beberapa adegan proses “penurunan” ilmu dari sang guru kepada muridnya yang membangkitkan tawa. Tapi cerpen ini sebenarnya memerlukan catatan kaki yang menjelaskan beberapa istilah khusus bagi para pembaca yang tidak begitu akrab dengan khazanah perwayangan Jawa yang berkaitan dengan seluk-beluk dunia mistik kejawen. Di awal cerpen disebut Begawan Ciptoning, Narada dan bidadari yang duduk di paha. Begawan Ciptoning adalah tokoh besar atau figur mumpuni atau sebutan bagi orang yang gentur (sangat asketis dan bersungguh-sungguh) dalam bertapa. Biasanya orang bertapa dengan tujuan untuk meraih sesuatu. Dan salah satu tokoh ksatria yang memiliki kemampuan bertapa adalah Arjuna (yang sering disebut sebagai lelananging jagad, lelakinya semesta). Ketika ia bertapa akan muncul banyak godaan, terutama dalam bentuk setan mengerikan dan setelah itu para bidadari cantik yang membangkitkan nafsu seks. Para bidadari itu akan berusaha sekuat tenaga merayu dan merangsang (dengan duduk di paha) pihak yang bertapa. Dan jika ia selamat dari godaan itu akan turun perwakilan dewa dari kahyangan untuk memberikan wahyu kepada pihak yang bertapa. Pihak yang menyampaikan wahyu sebagai bukti keberhasilan suatu laku bertapa, biasanya adalah Batara Guru (sebagai raja para Dewa) dan Batara Narada (Dewa senior).
Di cerpen ini juga disebut ajian Brajamusti sebagai ilmu sakti milik Raja Pringgondani, yakni Raden Gatutkaca. Tokoh Gatutkaca dalam perwayangan Jawa dikenal sebagai jagoan duel yang ampuh, anak dari Werkudara atau Bratasena atau Bima, kesatria Pandawa nomor dua (adik Yudhistira atau Puntadewa) hasil perkawinannya dengan Arimbi, putri dari kerajaan Pringgondani. Setelah menguasai ilmu Brajamusti, Gatutkaca kemudian bertahta sebagai Raja di Pringgondani tersebut. Ilmu Brajamusti ini sangat berbahaya karena bagi siapa saja yang menguasinya, ia dapat menghancurkan apa saja yang ada di hadapannya.
Ada pun keterangan mengenai ilmu Lembu Sekilan, Kethek Putih, Welut Putih dan Topeng Waja, telah dipaparkan cukup jelas di beberapa bagian. Ilmu-ilmu tersebut memang sangat populer di wilayah tertentu di pedalaman Jawa (Tengah dan Timur). Ketika saya hidup di daerah pedalaman Tulungagung, Jawa Timur, kawan-kawan saya yang masih remaja biasanya mengaji di surau atau ikut perkumpulan bela diri (olah kanuragan). Para kiai dan guru kanuragan akan itu memberi ilmu-ilmu populer tersebut sebagai bekal bagi kaum remaja yang kelak akan boro (mengembara) ke tempat yang jauh guna mengadu nasib. Kaum remaja itu adalah orang-orang miskin yang biasanya hanya berpendidikan Sekolah Dasar dan tak memiliki kemampuan untuk mendapatkan akses pendidikan yang lebih tinggi.
Maka jika ingin mengembara dan bertarung untuk membangun kehidupan di dunia luas, mereka harus membawa bekal berupa ilmu-ilmu kanuragan tersebut. Selain ilmi-ilmu yang telah disebutkan di atas, masih ada beberapa ilmu populer lainnya, yakni Isim, Macan Sekandhang, Bala Sewu dan Sepi Angin. Jika engkau menguasai Isim, engkau akan memiliki daya refleks yang luar biasa saat menghadapi serangan musuh. Bahkan ketika engkau sedang tidur lalu tiba-tiba diserang musuh, maka dengan tanpa sadar engkau akan dapat menangkis seluruh serangannya. Jika engkau menguasai ilmu Macan Sekandhang, saat engkau dikepung banyak musuh, engkau akan menggeram dahsyat hingga para musuh itu akan lari terbirit-birit karena mereka seolah-olah sedang menghadapi macan satu kandang. Dan jika engkau menguasai ajian Bala Sewu, maka tenagamu berlipat ganda seolah-olah seperti tenaga seribu manusia dijadikan satu. Sementara jika engkau menguasai ajian Sepi Angin maka engkau dapat berlari secepat angin.
Dulu di kampung saya, kami yang berguru tak perlu membayar ilmu-ilmu tersebut kepada sang kiai atau guru kanuragan. Semuanya diberikan secara gratis. Tapi rupanya kini sudah menjadi gejala umum bahwa ilmu-ilmu tersebut dapat diperjual belikan seperti paket-paket klenik atau mistik yang banyak diiklankan di majalah-majalah tertentu. Si aku dan Budi dalam cerpen ini pun harus membayar dalam jumlah tertentu saat berguru kepada si Antok yang anak pawang ular itu.
***
Itulah beberapa catatan yang dapat dijadikan referensi tambahan ketika membaca sebagian cerpen yang terhimpun dalam buku ini. Sebagian cerpen yang lain menurut saya tak membutuhkan catatan karena hal-hal pokok sudah termaktub dengan jelas dalam teks. Kita akan menjumpai kisah kelompok gastronom yang suka melakukan smokol (makan ringan antara sarapan dan makan siang), dalam cerpen “Smokol “ karya Nukila Amal; kisah pertemuan (plus jatuh cinta sekejap) seorang perempuan (bersuami) kepada seorang lelaki teman seperjalanan di pesawat terbang, dalam cerpen “Terbang” karya Ayu Utami; kisah seorang perempuan yang sudah bersuami tapi jatuh cinta kepada laki-laki lain dan dengan ringan pula ia menunjukkan dan memperkenalkan laki-laki lain tersebut kepada para kerabat dan teman-teman dekatnya, pada cerpen “Apel dan Pisau” karya Intan Paramaditha; dan kisah perihal perempuan tua (gelandangan) yang mati di beranda sebuah rumah dan mayatnya nyaris dimakan seekor anjing hingga si tuan rumah kalang kabut, pada cerpen “Mbok Jimah” karya Naomi Srikandi.
Kita juga akan menjumpai kisah perihal seorang perempuan tionghoa (WNI) yang meninggalkan Indonesia lantaran kerusuhan Mei 1998 lalu menetap di Los Angeles Amerika Serikat dan setelah sekian lama berada di kota itu untuk pertama kali ia akan bertemu dengan seorang lelaki dari negeri asalnya. Tapi pertemuan yang mendebarkan itu justru menjadi pengalaman yang unik dan agak konyol karena si lelaki kehilangan cincin kawinnya, pada cerpen karya Eka Kurniawan (Gerimis yang Sederhana); kisah seorang perempuan yang terus mengingat cinta dan kematian ayahnya ketika bersama lelaki pasangannya pada cerpen Linda Christanty (Sebuah Jazirah di Utara); perihal seseorang yang menghadapi kenyataan bahwa kekasihnya mati karena kecelakaan lalu-lintas, yang dikisahkan dalam bentuk molonog lirih dan mencekam, pada cerpen Stefanny Irawan (Hari Ketika Kau Mati).
Lalu kisah perihal kepedihan yang nyaris tak tertanggungkan yang dialami dua orang perempuan Indonesia yang menetap di Los Angeles, Amerika Serikat (salah satunya bersuamikan seorang pria Amerika keturunan Korea) akibat kehilangan hak asuh anak-anak mereka setelah bercerai dengan suami masing-masing (dan akibat tekanan mental yang hebat itu salah seorang di antara mereka menembak kucing-kucing manis yang dititipkan padanya), pada cerpen Triyanto Triwikromo (Lembah Kematian Ibu); kisah lucu perihal seseorang yang hendak mengganti giginya dengan gigi palsu, pada cerpen karya Zelfeni Wimra (Bila Jumin Tersenyum); kisah perihal seorang anak kecil yang terus merindukan kartu pos dari ibunya, pada cerpen karya Agus Noor (Kartu Pos dari Surga); kisah perihal seorang ibu yang meyakini bahwa suaminya seorang lelaki yang baik dan setia hingga akhirnya mendapati kenyataan bahwa suaminya itu memiliki istri simpanan, pada cerpen karya Ratih Kumala (Foto Ibu); kisah lucu perihal seseorang yang pontang-panting menghadapi upaya penyuapan, pada cerpen karya Putu Wijaya (Suap); kisah seorang ibu yang semaput dan koma selama seminggu karena menemukan cincin kawinnya berada di perut ikan yang sedang ia makan. Suaminya mati terbantai pada saat huru-hara besar tahun 1965 dan mayatnya dihanyutkan di sungai Brantas (Jawa Timur) hingga menjadi santapan ikan-ikan, pada cerpen karya Danarto (Cincin Kawin); dan kisah (setengah dongeng) perihal tempat imajiner dengan para penghuninya yang hidup dalam damai tapi kemudian dicekam oleh rasa takut akibat diberlakukannya semacam Undang-undang Kesusilaan, pada cerpen karya F Dewi Ria Utari (Perbatasan).
Secara umum, cerpen-cerpen yang terhimpun dalam buku ini sangat fasih menciptakan bentuk yang sesuai dengan isi cerita. Beberapa di antaranya bahkan berhasil mencapai bentuk yang spesifik, terutama bentuk pengisahan yang mirip monolog panjang, lirih dan halus tapi di sana sini mengandung ledakan-ledakan muram dalam sekapan ruang yang menekan dan melelahkan. Ada juga cerpen yang mencoba menciptakan berbagai metafora di antara kalimat-kalimat bersayap dan mengejutkan. Contohnya adalah cerpen “Sebuah Jazirah di Utara”, karya Linda Christanty, di mana dapat ditemukan kalimat-kalimat seperti berikut:
“Dia tiba-tiba merasa sedih, karena menemukan sesuatu yang tak memiliki kaitan apa pun dengan dirinya. Seperti baling-baling pesawat terbang di gunung salju: keduanya bukan komposisi yang sesuai, tapi musibah telah mempertemukan benda dan tempat tersebut sebagai hal wajar. Kini dia lebih merasa sebagai gunung salju, sesuatu yang pasif dan cedera.” Juga kalimat, “dari bawah tumpukan kemeja dan pantalon lelaki itu di sisi tempat tidur, menyembul kain hitam berenda yang seolah dirinya dan sejumlah perempuan lain dibelahan timur dan negeri ini, yang terperangkap oleh patriarki; kata yang kurang puitis untuk puisi”.
Atau kalimat seperti ini: “Namun, kata ayah, lelaki semacam itu akan berziarah bersamanya ke tempat di mana burung-burung pembawa batu api pernah menaklukkan pasukan gajah, di mana Ibrahim menunjukkan rasa setia yang agung dengan mengorbankan putranya dan ditukar Allah dengan domba, di mana setelah 700 tahun terpisah sepasang kekasih bertemu lagi, di mana perang dan cinta diperingati tiada henti”.
Membaca kalimat-kalimat semacam itu saya dituntut untuk terus awas dan waspada agar tidak kehilangan isi dari apa yang hendak disampaikan. Pada kalimat terakhir itu misalnya, saya harus membacanya dengan hati-hati untuk memahami sosok lelaki “yang kata ayah akan berziarah bersamanya” ke kota Mekah, Arab Saudi. Boleh jadi si aku dan si lelaki akan pergi umroh atau naik haji. Atau sekadar berkunjung ke sebuah kota suci (sebagaimana diceritakan dalam Al Quran, pernah ada pasukan gajah yang hendak menyerbu kota itu, dan kemudian Tuhan mengirim burung-burung yang menyerang dengan batu-batu api hingga kota tersebut selamat dari serbuan pasukan gajah tersebut).
Gambaran sosok laki-laki itu menjadi kian samar karena yang menonjol justru kalimat keterangan yang menyebut kisah Nabi Ibrahim (sebagai pembangun Kabah di kota Mekah) dan istrinya Siti Hajar. Ibrahim dan Siti Hajar pernah berpisah selama 700 tahun sebelum mereka bertemu lagi lalu memiliki anak Ismail. Di situ juga disebut perihal perintah Tuhan kepada Ibrahim agar menyembelih Ismail. Tapi Tuhan kemudian menukar Ismail dengan seekor domba.
Banyaknya kalimat keterangan yang kadang cukup rumit membuat saya harus mengingat terus siapa sebenarnya lelaki itu, siapa tokoh si aku dan kemudian siapa ayah di sini. Kata ganti “dia” dalam paragraf demi paragraf dapat beralih antara lelaki itu, si aku, dan ayah. Yang pasti si aku di sini sedang menceritakan si lelaki dan juga ayahnya. “Dia tak akan bisa melupakan keduanya, cinta ayahnya kepadanya dan cintanya kepada lelaki itu. Keduanya abadi, tiada tergantikan, seperti semua yang disebut “pertama kali”.
Maka, ketika saya sudah mendapatkan petunjuk yang pasti, bahwa si aku sedang bercerita perihal dua lelaki, yakni ayahnya dan lelaki yang ia cintai, maka semuanya menjadi jelas. Kalimat-kalimat panjang dan disisipi metafora di sana-sini itu hanya berfungsi sebagai anak kalimat belaka. Jadi saya pun tidak tersesat oleh pertukaran posisi antara “lelaki itu” yang kadang tampak menjadi ayah si aku, kadang justru ayah si aku yang menjadi lelaki itu.
Membaca cerpen ini bagi saya cukup mengasyikkan. Memang ada bagian yang agak menganggu di paragraf awal, yakni kalimat: “Ketika ayahnya menyerah pada Israfil pada malam itu, dia bercinta dengan sebuah jazirah gelap di utara”. Barangkali yang dimaksud di situ bukan Israfil (sebagai malaikat peniup terompet tanda kedatangan hari kiamat), melainkan Izrail sebagai malaikat pencabut nyawa). Tapi terlepas dari kesalahan kecil tersebut, dengan kalimat-kalimat panjang di hampir semua bagian cerpen, cerpen ini dapat dikatakan cukup unik karena berani mencoba membangun model penuturan yang seolah-olah sangat rumit (dan kadang tampak tanpa alur) tapi sebenarnya berkisah mengenai sebuah momen sederhana ketika si aku sedang bersama si lelaki sembari terus menerus membayangkan ayahnya saat menjemput maut.
***